Adab Islami

Beberapa Doa Penuntun Tidur (seri 2)

Ditulis oleh pada 30 Jul 2013 di Adab Islami | 0 komentar

Beberapa Doa Penuntun Tidur (seri 2)

Pada tulisan sebelumnya telah diketengahkan dua sifat doa sebelum tidur. Pada tulisan kali ini akan disampaikan beberapa doa dan tuntunan sebelum tidur yang merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. semoga bermanaat.

Selain dari dua sifat doa sebelum tidur yang telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, ada beberapa tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa beliau kerjakan dan ajarkan kepada para sahabatnya. Berikut ini, kami akan ketengahkan beberapa doa dan tuntunan lain, selain dari dua sifat doa yang telah kami paparkan kepada sidang pembaca yang budiman di atas.

BEBERAPA DOA DAN TUNTUNAN SEBELUM TIDUR

Selain dari dua sifat doa sebelum tidur di atas, ada beberapa tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa beliau kerjakan. Berikut ini, kami akan sebutkan beberapa doa dan tuntunan itu, selain dari dua sifat doa yang telah kami ketengahkan kepada sidang pembaca yang budiman di atas. Diantaranya:

1. Doa pertama

(( الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِيَ لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ ))

Segala puji hanya untuk Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami, memberikan kecukupan bagi kami, dan mengembalikan kami kepada tempat tinggal kami, betapa banyak orang yang tidak ada yang memberikan kecukupan dan tempat tinggal kepadanya“.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no: 2715. Lihat: Sahih Sunan Abu Dawud, no: 5053, Sahih Sunan at Tirmidzi, no: 3396.

2. Doa kedua

Dalam riwayat al-Bukhari, no: 6320, disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca doa berikut. Doa tersebut berbunyi:

(( بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ ))

Dengan menyebut namamu ya Rabb-ku aku merebahkan badanku, dan karena-Mu aku mengangkatnya, apabila Engkau menahan jiwaku, maka kasihanilah ia, dan apabila Engkau melepaskannya, maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih“.

Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, lihat Shahih Sunan Abu Dawud, no: 5050, dan at-Tirmidzi, lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, no: 3401.

3. Doa ketiga

Dalam riwayat lain dari Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa berikut:

(( اللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ))

Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu “.

Hadis sahih. Lihat kitab Sahih Sunan Abu Dawud, no 5045, ash Sahihah, no: 2754, Sahih Sunan at-Tirmidzi, no: 3398, 3399.

4. Membaca ayat kursi

Sebagaimana riwayat dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 2311. Manfaat dari membaca ayat kursi tersebut ialah, senantiasa akan ada dari Allah subhanahu wa ta’ala penjaga yang melindungi kita, dan setan tidak akan bisa mendekat kepada kita hingga pagi hari tiba.

Adapun bacaan ayat kursi, telah tertera dalam al-Quran pada surat al Baqarah, ayat 255. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar“. (QS. al-Baqarah: 255)

5. Membaca tasbih, takbir, dan tahmid

Tuntunan ini sesuai dengan hadis berikut. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma:

إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ

Apabila kalian berdua telah bersiap-siap untuk tidur maka ucapkanlah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, ucapkan tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan ucapkanlah tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali“.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 3113, 5361, 6318. at-Tirmidzi, no: 3408. Lihat Sahih Sunan at-Tirmidzi.

Dalam riwayat lain disebutkan takbir, tahmid, dan tasbih, masing-masing diucapkan sebanyak tiga puluh tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَسَبِّحَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ

Apabila kalian berdua mendatangi tempat tidur atau telah bersiap-siap untuk tidur, maka ucapkanlah takbir sebanyak tiga puluh tiga kali, ucapkanlah tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, dan ucapkanlah tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali juga“.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 3705 dan 6318.

6. Membaca surat al-Mu’awwidzaat

Surat al mu’awwidzaat adalah surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Naas. Ketiga surat tersebut sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau hendak tidur. Tuntunan ini pernah dikisahkan oleh Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِي يَدَيْهِ وَقَرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila hendak pergi tidur beliau meniup pada kedua tangannya dan membaca surat al mu’awwidzaat, lalu mengusapkan keduatangannya di badan.

Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, no: 6319.

Dalam riwayat yang lain Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila pergi ke tempat tidurnya setiap malam beliau menyatukan kedua tangannya kemudian meniupnya, beliau membacakan pada keduanya surat al Ikhlash, al Falaq, dan an Naas. Selanjutnya beliau mengusap dengan keduanya apa yang disanggupi dari badannya, ia memulai dari kepala, wajah, dan anggota badan yang berada di depan, beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 5017, 5748. Lihat pula Sahih Sunan at-Tirmidzi, no: 3402.

Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata: “Maka, sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk senantiasa menjaga bacaan ketiga surat ini setiap malam ketika ia hendak tidur, sesuai dengan sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar dengannya ia mendapat penjagaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, perhatian, dan kecukupan, dan agar ia dapat tidur dengan begitu pulasnya, dan hanya Allah-lah pemberi taufiq. (Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar, jilid 3, hal 55)

Masih ada beberapa adab dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa beliau lakukan sebagai rutinitas sebelum tidur. Namun tidak mungkin semuanya dapat kami ketengahkan di sini, sebab pembahasan ini akan menjadi semakin panjang lebar dan meluas nantinya. Bagi yang menginginkan tambahan, bisa merujuk ke kitab-kitab hadis, adab, dan doa.

Semoga, yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi sidang pembaca, dan dapat kita diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ajaran sedikit namun sesuai sunnah tentu jauh dan jauh lebih baik dan lebih mulia dari pada ajaran yang banyak namun jauh dari tuntunan sunnah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan taufiq-Nya dan memudahkan bagi kita untuk menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini, serta lebih memudahkan bagi kita untuk mengamalkan sunnah-sunnah beliau yang lain. Dan hanya Allah-lah Maha Pemberi taufiq hamba-hamba-Nya yang beriman.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya, juga kepada mereka-mereka yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari akhir. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Baca Selanjutnya

Beberapa Doa Penuntun Tidur (seri 1)

Ditulis oleh pada 2 Jul 2013 di Adab Islami | 0 komentar

Beberapa Doa Penuntun Tidur (seri 1)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mewariskan kepada kita adab-adab, doa-doa, dan tuntunan-tuntunan sebagai pegangan dalam keseharian kita. Amma ba’du:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلآيَاتٍ لِأُولِي اْلأَلْبَابِ. الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring“. (QS. Ali Imran: 190-191)

Setelah menghabiskan waktu pagi, siang dan sore hari dengan berbagai aktivitas, kegiatan dan kesibukan tentu kita merasa lelah. Tiada waktu tersisa selain malam hari yang telah Allah subhanahu wa ta’ala jadikan sebagai kesempatan untuk tidur dan istirahat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. al-Furqan: 47)

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا. وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian.” (QS. an-Naba’: 9-10)

Sehingga, tidak ada lagi rutinitas kita yang tersisa sebelum beranjak tidur selain membaca sepatah dua patah kata dari doa ringan nan mudah, sebagai warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita umatnya, umat Islam. Akan tetapi, ternyata doa yang sampai kepada kita memiliki beberapa lafal dan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang panjang, pendek, dan yang sedang pun ada.

Sebagai bentuk kemudahan dan keringanan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya dalam agama ini, salah satunya adalah dengan adanya keanekaragaman lafal doa sebelum tidur. Dan alangkah banyaknya bentuk dan sifat doa sebelum tidur tersebut. Andai saja tidak jeli, maka kita tidak akan tahu perbedaan tipis yang ada pada doa-doa tersebut.

Di sini, kami akan memaparkan dan menurunkan beberapa sifat lafal doa sebelum tidur, guna mempermudah bagi kita dalam memilih lafal mana yang paling ringan dan paling gampang. Karena, alangkah menyedihkan, apabila kita -sebagai seorang muslim- selalu menutup lembaran rutinitas sehari-hari dengan istirahat dan tidur, tidak pernah mengawalinya dengan doa yang telah diajarkan al-Mushtafa shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh sangat menyedihkan kondisi seorang muslim yang tiada pernah membacanya. Wallahul Musta’an.

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau hendak tidur, maka beliau membaca doa sebelum tidur. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila seorang dari kalian ingin tidur, hendaklah ia berdzikir kepada Allah azza wa jalla terlebih dahulu.” (Hadis sahih. Lihat Sahih al-Adab al-Mufrad karya al-Albani, no: 1208)

Ini menunjukkan bahwa urusan tidur pun ada tuntunan dan adabnya, ada doa tertentu yang sudah sepatutnya dibaca oleh seorang muslim.

Dalam kitab Syarah Sahih al-Adab al-Mufrad Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah menuturkan: “Berdzikir sebelum tidur, doa dan pujian ketika bangun, ini menunjukkan sudah selayaknya bagi orang yang beranjak menuju tidurnya untuk senantiasa mengingat Allah ta’ala dan bersiap-siap untuk berpisah dengan dunia, sebab tidur adalah penutup urusan dan amalan, dan tatkala seorang dapat bangun lagi, hendaklah ia memuji Allah dan bersyukur atas karunia-Nya.” (Jilid 3, hal 319)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengingatkan kita untuk selalu berdzikir dan berdoa kepada-Nya sebelum kita menutup lembaran hidup kita untuk menuju istirahat sementara di malam hari. Dengan membaca doa dan dzikir tersebut, apabila seorang muslim mati pada malam hari itu, niscaya ia mati dalam keadaan fitrah (sunnah). Karena, sebagaimana dikatakan, tidur adalah saudaranya mati. Bisa saja seseorang mati ketika tidur, atau bahkan Allah akan memanjangkan umurnya untuk menatap indahnya sang surya pada keesokan harinya, karena Allah-lah yang memegang jiwa manusia ketika tidur, Dia dapat perlakukan jiwa itu sekehendak-Nya. Allah ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى اْلأَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا

Allah memegang jiwa (manusia) ketika matinya dan (memegang) jiwa yang belum mati di waktu tidurnya“. (QS. az-Zumar: 42)

Ath-Thibi rahimahullah berkata: “Hikmah dari penggunaan kata mati ketika tidur ialah, bahwa manusia dengan kehidupan ini dapat mengambil manfaat untuk mencari ridha Allah, taat kepada-Nya, menjauhi murka dan sanksi-Nya. Barang siapa yang tidur, ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari itu semua, sehingga ia bak sesosok mayat, maka sudah selayaknya ia memuji Allah atas nikmat ini. (Fathul Bari, jilid 11, hal. 137)

Berikut ini beberapa sifat doa sebelum tidur yang telah diajarkan dan diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.

 

SIFAT DOA PERTAMA

Adapun lafal doa pertama, akan kami ketengahkan lima redaksi saja. Tujuan utama dari pembahasan ringkas ini adalah untuk memberikan kemudahan bagi sidang pembaca yang budiman dalam memilih doa manakah yang sekiranya termudah baginya untuk dibaca sebelum tidur.

  1. Hadis pertama

كَانَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُوْلُ ((بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوْتُ))

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur malam beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:“Dengan menyebut nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu pula aku mati”.

Hadis sahih. Lihat kitab Sahih al-Jami’ ash-Shaghir, no: 4650, dari Hudzaifah

  1. Hadis kedua

‌كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ ((بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur beliau mengucapkan:“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup”.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Sahih-nya, no: 6324, juga kitabnya al-Adabul Mufrad, no: 915. Syaikh al Albani berkomentar: Sahih. Periksa: Sahih al-Adab al-Mufrad, no 1205, ash-Sahihah, no: 2754.

  1. Hadis ketiga

 أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ قَالَ (( اللّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ ))

Dari al-Bara’ bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila hendak tidur beliau mengucapkan:“Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati.”

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no: 2711 dari al Bara’ bin ‘Azib

  1. Hadis keempat

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُوْلُ ((اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak tidur malam beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya kemudian mengucapkan:“Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup”.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 6314, 6325, dari Hudzaifah.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan dengan lafal:

اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوْتُ

Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan mati“.

Hadis sahih. Lihat Sahih Sunan Abu Dawud, no: 5049.

  1. Hadis kelima

كَانَ النَّبِيُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ ((بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا))

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pergi ke tempat tidurnya ia berkata:“Dengan menyebut nama-Mu aku mati dan hidup”.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no: 6312, dari Hudzaifah. Lihat: ash Sahihah, no: 2754.

Dalam riwayat al-Bukhari yang lain, no: 7395, disebutkan dengan lafal bentuk jamak, riwayat tersebut berbunyi:

(( بِاسْمِكَ نَمُوْتُ وَ نَحْيَا ))

Dengan menyebut nama-Mu kami mati dan hidup“.

 

KESIMPULAN PERTAMA

Dari beberapa hadis di atas dapat kita simpulkan, bahwa doa sebelum tidur sifat pertama memiliki banyak sifat, di antaranya beberapa lafal di atas. Inilah di antara lafal dari sifat doa pertama. Silahkan sidang pembaca yang budiman memilih manakah doa yang paling mudah dan paling praktis untuk dibaca sebelum tidur.

 

SIFAT DOA KEDUA

Adapun untuk sifat yang kedua, kami juga hanya akan menurunkan lima sifat doa yang berlainan. Kelimanya kami sebutkan pada keterangan di bawah ini. Silahkan membaca, menghafalkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Hadis pertama:

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: “اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ”. فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ))

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku:“Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus”. Apabila engkau meninggal dunia pada malam itu, niscaya engkau dalam keadaan fitrah. Dan jadikan doa tersebut sebagai ucapan terakhirmu.

Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, no: 247.

  1. Hadis kedua:

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ: “اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ”. فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ)).

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku:“Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat kemudian rebahkan (badanmu) di atas bahu sebelah kanan kemudian ucapkanlah:Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus”. Apabila engkau mati, niscaya engkau mati dalam keadaan fitrah, dan jadikan doa ini sebagai penutup perkataanmu”.

Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, no: 3611, Muslim, no: 2710.

  1. Hadis ketiga:

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى رَجُلاً فَقَالَ: ((إِذَا أَرَدْتَ مَضْجَعَكَ فَقُلْ: “اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَ نَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ”. فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الفِطْرَةِ)).

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewasiatkan kepada seseorang lalu beliau bersabda: “Apabila engkau ingin pergi ke tempat tidur, maka ucapkanlah:”Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus”. Apabila engkau meninggal dunia, niscaya engkau meninggal dalam keadaan fitrah.

Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, no 6313.

  1. Hadis keempat:

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَامَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْـمَنِ ثُمَّ قَالَ: ((اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ)).

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pergi ke tempat tidurnya, beliau merebahkan badannya di atas badan bagian kanan kemudian berucap:”Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus.

Hadis sahih. Riwayat al-Bukhari, no: 6315.

  1. hadis kelima:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ رَجُلاً إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنْ اللَّيْلِ أَنْ يَقُولَ: ((اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ )).

Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kepada seseorang apabila ia hendak pergi tidur pada malam hari untuk mengucapkan:”Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku  sandarkan punggungku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dengan penuh harap (akan rahmat-Mu) dan cemas (akan siksa-Mu), tiada perlindugan dan pertolongan dari (siksa-Mu) kecuali hanya kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus.

Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no: 2710.

KESIMPULAN KEDUA

Dari hadis-hadis tersebut terkumpul-lah lima lafal doa sebelum tidur untuk sifat kedua, yaitu:

1. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

2. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

3. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَ نَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

4. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

5. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala Aalihi wa shahbihi ajma’in.

Baca Selanjutnya

Adab Meruqyah (seri 2)

Ditulis oleh pada 1 Jan 2013 di Adab Islami | 2 komentar

20121117_055826

Telah disampaikan pada tulisan sebelumnya dua adab meruqyah beserta penjelasan beberapa syarat ruqyah yang diperbolehkan di dalam Islam. Berikut ini empat adab meruqyah sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya. Selamat menyimak.

Baca Selanjutnya

Adab Meruqyah (seri 1)

Ditulis oleh pada 1 Jan 2013 di Adab Islami | 0 komentar

20121117_080041

Ruqyah adalah bacaan-bacaan secara syar’i untuk pengobatan. Arti syar’i di sini ialah berdasarkan pada riwayat-riwayat yang shahih (al-Qur`an dan as-Sunnah), atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama.

Baca Selanjutnya

Adab Berobat (seri 2)

Ditulis oleh pada 23 Des 2012 di Adab Islami | 0 komentar

IMG_2232

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan tiga adab berobat. Berikut ini kelanjutan dari tulisan tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Amin.

Baca Selanjutnya

Adab Berobat (seri 1)

Ditulis oleh pada 22 Des 2012 di Adab Islami | 0 komentar

IMG_2164

Sehat atau sakit, menang atau kalah, jaya atau terpuruk, sukses atau gagal, dan seterusnya merupakan dua realita yang dihadapi oleh setiap manusia. Tidak bisa ia berlari menjauh dari keduanya. Terkadang ia kalah, terpuruk, gagal, dan sakit. Namun,

Baca Selanjutnya

Adab Menjenguk Orang Sakit

Ditulis oleh pada 19 Des 2012 di Adab Islami | 0 komentar

20121219_055741

Telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya beberapa keutamaan menjenguk orang yang sakit. Sebelum anda pergi menjenguknya, maka perlu memperhatikan beberapa adabnya.

Baca Selanjutnya

Menguap pun Ada Adabnya

Ditulis oleh pada 18 Des 2012 di Adab Islami | 0 komentar

2012-12-18-07-50-26_deco

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa agama Islam telah sempurna. Tidak hanya mengurusi perkara-perkara yang besar, hal kecil yang terkadang ‘dilupakan’ oleh sebagian kaum muslimin pun diperhatikan oleh Islam.

Baca Selanjutnya