Kisah Teladan

Lima Kisah Sarat Faedah

Ditulis oleh pada 19 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

Lima Kisah Sarat Faedah

Di antara cara jitu dalam menuntut ilmu sekaligus trik manjur untuk membunuh rasa jemu adalah dengan membaca kisah nyata atau cerita pada pendahulu. Darinya kita dapat mengambil banyak pelajaran. Kita dapat mencontoh sifat baik yang disampaikan atau menjauhi sifat buruk yang disuguhkan. Oleh karenanya, berikut kami bawakan lima kisah yang semoga berisi sarat faedah. Selamat menyimak.

 

Mana yang lebih Menakjubkan?

Di antaranya adalah kisah beberapa penduduk kota Baghdad dengan Muhammad bin Abdul Wahid al-Bawardi Abu ‘Amr az-Zahid (wafat 345 H). Ia terkenal dengan kekuatan hafalannya yang luar biasa. Apabila ditanya tentang sebuah perkara maka dia akan menjawab dengan jawaban dari dirinya sendiri alias mengarang jawaban atau berdusta. Anehnya, bila ditanya lagi tahun depannya ia bisa menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban sebelumnya. Hafalan kuat namun pandai berdusta.

Ada sebuah riwayat, disebutkan bahwa sekelompok penduduk Baghdad melewati sebuah jembatan, lalu mereka mengingat kedustaan yang dilakukan Abu ‘Amr. Seorang dari mereka berkata: “Aku akan balik kalimat قنطرة (qontoroh/jembatan) menjadi هرطنق, lalu aku akan tanyakan artinya kepada dia.”

Ketika mereka menemui Abu ‘Amr, orang itu bertanya: “Syaikh apa arti kata هرطنق dalam bahasa Arab? Lalu ia menjawabnya dengan panjang lebar. Orang-orang tertawa mendengarnya lalu mereka izin pergi.

Setelah berlalu satu bulan, mereka mengirim utusan untuk menanyakan kata yang sama kepada Abu ‘Amr, namun ia menjawab: “Bukankah aku pernah ditanya seputar masalah ini dahulu, bla bla bla?!” tapi kemudian dia menjawab dengan jawaban persis seperti jawaban yang sebelumnya sebulan lalu. Mendengar hal itu orang-orang berkata: “Kami tidak tahu, mana yang lebih mengherankan dari dua hal tersebut; apakah kuatnya hafalannya bila itu ilmu, atau dari dustanya bila ia berdusta?!

 

Sang Pengarang

Kisah selanjutnya masih dari Abu ‘Amr az-Zahid. Dihikayatkan bahwa Mu’izz ad-Daulah Ibnu Buwaih mengangkat seorang berkebangsaan Turki untuk menjadi kepala polisi di Baghdad, namanya خواجا (khowaajan). Kabar tersebut sampai kepada Abu ‘Amr az-Zahid. Pada waktu itu ia sedang mendikte kitabnya al-Yawaaqiit dalam bidang bahasa. Lalu ia berkata kepada para jamaah di majelisnya: “Tulislah Yaaquutah khowaajan (ياقوتة خواجا), al-khowaaj asal bahasanya dari kata al-Juu’/lapar (الجوع). Kemudian dia mendiktekan akar kata tersebut. Ketik itu orang-orang sudah merasakan kalau ia telah berdusta.

 

Pertanyaan dan Jawaban sama-sama Dusta

Adalah Sha’id bin al-Hasan al-Baghdadi (wafat tahun 417), sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah, meski ia fasih namun dituduh banyak berdusta. Maka itu orang-orang menolak kitabnya dalam bidang bahasa yang berjudul al-Fushuush, sehingga kitab tersebut tidak masyhur di tengah manusia.

Dia adalah orang yang lucu dan begitu cepat menjawab pertanyaan. Pernah suatu ketika di majelis ada laki-laki buta bertanya kepadanya tentang arti dari kata al-Haronqol (الحرنقل) yang sengaja ia buat asal-asalan. Lalu Sha’id sesaat menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa lelaki buta itu mengarang-ngarang kalimat itu, kemudian ia mengangkat kepalanya dan menjawab: “Artinya adalah, laki-laki yang mendatangi wanita yang suaminya buta.” Para hadirin pun tertawa mendengarnya, sedangkan lelaki buta itu malu sendiri. Inilah yang namanya balasan sesuai dengan perbuatan. Meski keduanya sama-sama tidak baik.

 

Banyak Koleksi Buku namun Miskin Ilmu

Abul Abbas Ahmad bin Ali al-Abar bercerita: “Aku pernah melihat seorang berkumis tipis di daerah al-Ahwa’, aku kira dia membeli banyak kitab yang penuh berisi fatwa-fatwa. Ketika orang-orang (di sekitar) sedang membicarakan tentang ahlul hadis, ia berkata:”Mereka tidak ada apa-apanya, tidak bisa menandingi yang lainnya.”

Lalu aku berkata kepadanya, “Salat kamu pasti tidak baik ya?” Dia bertanya untuk meyakinkan, “Maksudmu, saya?!!”

Aku menjawab: “Iya, apa kamu hafal hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang doa iftitah dan mengangkat tangan ketika takbir?” mana hadis yang kamu hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meletakkan tangan di atas lutut?! Terus mana juga hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud?!”

Ia pun terdiam. Aku berkata lagi, “Mengapa engkau tidak mau berbicara?! Bukankah aku telah mengatakan salatmu tidak baik?! Engkau bisanya hanya ikut-ikutan saja, ketika disampaikan kepadamu bahwa salat subuh dua rakaat dan salat zuhur empat rakaat, engkau menurut saja.! Maka itu, mendalami hal tersebut lebih baik dari pada dirimu membicarakan para ulama hadis, justru engkau yang tidak ada apa-apanya, bahkan tidak bisa apa-apa.!”

 

Ketika menerjemahkan kisah ini, teringat aku dengan peristiwa sekitar sebelas tahun silam, tepatnya tahun 2002, ketika ada daurah muqabalah yang diisi oleh para dosen Universitas Islam Madinah di Ma’had Taruna al-Qur’an Jogja. Waktu itu ada segelintir orang yang mendekati seorang Syaikh di sana dan menyampaikan sebuah pertanyaan kepada beliau. Mereka bertanya perihal Syaikh Robi’ waffaqohullah yang tidak lagi menjadi barisan pengajar di Universitas Islam Madinah, apakah sebabnya?

Seketika itu Syaikh tersebut marah dan mengatakan, “Kamu sudah tahu rukun-rukun salat? Itu lebih baik bagi dirimu dari pada mengurusi permasalahan ulama,” demikian kira-kira jawaban dari beliau. Mereka pun malu dan diam seribu bahasa.

Serupa dengan kisah di atas, tidak hafal satu hadis tentang gerakan salat sudah berani mencela ulama hadis. Yang ini belum paham rukun-rukun salat malah menyibukkan diri dengan urusan orang lain yang tidak penting baginya. Allahul-musta’aan.

 

Anti Fanatik

Dahulu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah membenci berdebat dengan ahlu bid’ah. Imam al-Ghazali rahimahullah menghikayatkan di dalam kitabnya al-Munqizh bahwa beliau mengingkari karya al-Harits al-Muhasibi rahimahullah yang membantah Muktazilah.

Al-Harits mengatakan: “Membantah bid’ah hukumnya wajib.”

Imam Ahmad menjawab: “Iya, benar. Namun engkau menyebutkan syubhat mereka baru kemudian membantahnya. Dikhawatirkan orang-orang hanya membaca syubhatnya saja dan tidak menoleh kepada jawabannya.”

Al-Ghazali berkomentar seraya menunjukkan sikapnya, “Apa yang disebutkan oleh Ahmad itu benar apabila syubhatnya belum menyebar dan masyhur di tengah manusia. Namun jika sudah menyebar, maka syubhat itu wajib dijawab. Tentu saja tidak mungkin bisa dijawab melainkan disebutkan syubhatnya terlebih dahulu.”

 

 

Catatan:

Beberapa perkataan dan kisah nyata di atas diambil dari dua kitab al-Ta’aalum wa Atsaruhu ‘alaa al-Fikri wa al-Kitab dalam al-Majmuu’ah al-‘Ilmiyyah karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah, cetakan Dar al-‘Ashimah.

 

 

Kalisari, 15 al-Muharram 1435 H/ 19 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya

Di Balik Perselisihan Ulama

Ditulis oleh pada 17 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

Di Balik Perselisihan Ulama

Perselisihan merupakan sunnatullah yang terjadi di alam semesta ini. Tidak hanya terjadi di antara dua pemeluk agama, suku atau dua kubu, di tengah keluarga kecil pun perselisihan adalah suatu kewajaran. Bahkan di kalangan para ulama hal itu pun tak bisa dihindarkan. Begitu banyak perselisihan di kalangan mereka, baik berkaitan dengan permasalahan besar maupun kecil. Hanya saja, tidak semua perselisihan yang terjadi di tengah mereka menyebabkan permusuhan. Di antara bukti nyata dari hal ini dapat disimak pada tiga kisah singkat di bawah ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

 

Pertama: Antara Syaikh al-Albani dan Syaikh at-Tuwaijiri

Contoh nyata dari ulama abad ke 20, yaitu perselisihan yang terjadi Syaikh al-Albani dengan Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahumallah dalam beberapa permasalahan. Satu sama lain saling membantah, setiap orang memiliki pandangan sendiri-sendiri. Suatu ketika Syaikh al-Albani datang ke kota Riyadh, tepatnya pada tahun 1410 H, dan ditemui oleh Syaikh Hamud at-Tuwaijiri pada acara perjamuan makan malam di rumah seorang ulama. lalu Syaikh Hamud mengundang Syaikh al-Albani untuk berkunjung ke rumahnya, Syaikh al-Albani pun memenuhi undangannya. Datanglah Syaikh al-Albani ke rumah Syaikh Hamud, dan ternyata keduanya saling menghormati satu sama lain dan saling mengutamakan saudaranya. Lenyaplah perselisihan dan yang tersisa adalah persaudaraan dan saling sayang. Sekiranya engkau bercerita bahwa Syaikh al-Albani pernah berkunjung ke rumah Syaikh Hamud niscaya cerita ini tidak akan percaya, karena selama ini yang masyhur dari keduanya adalah adanya perselisihan dalam beberapa permasalahan.

Lebih dari itu, salah satu putra Syaikh Hamud bercerita bahwa di antara hal yang membuat takjub para tamu undangan adalah, bahwa beliau sangat menghormati Syaikh al-Albani, beliau sendiri yang menyuguhkan makanan kepadanya dan lebih mengutamakan tamunya dari pada dirinya sendiri, dan ketika pulang beliau mengantar Syaikh al-Albani sampai depan pintu. Semoga Allah merahmati keduanya. (Ma’aalim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, Syaikh as-Sadhan)

 

Kedua: Antara Syaikh al-Albani dan Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i

Cerita kedua masih seputar Syaikh al-Albani. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullah bercerita: “Adapun yang kedua ialah kisah bersama Syaikh kita al-Albani rahimahullah, yakni sikap beliau terhadap Ustadz kami Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i rahimahullah, Syaikh al-Albani tidak mau menegur Syaikh Muhammad Nasib beberapa tahun dikarenakan permasalahan keyakinan/akidah dalam ranah ijtihad. Meski demikian Syaikh al-Albani sangat tahu bahwa pada waktu itu kami sering mendatangi Syaikh Muhammad Nasib dan menyusun jadwal kajian yang diisi oleh beliau. Kami juga ikut membantu beliau dalam merampungkan beberapa tulisannya, sebagaimana kami pun pernah berkunjung ke rumah beliau dengan beberapa tamu mulia dari sana sini, dst. Namun, demi Allah, tidak pernah kami melihat Syaikh al-Albani suatu hari marah dengan sikap kami tersebut, beliau juga tidak meminta kami untuk mengubah sikap tersebut, tidak mengancam atau menguji kami, dan tidak pula mengharuskan kami mengikuti beliau rahimahullah, apalagi sampai tidak tegur sapa dengan kami dan meragukan manhaj salaf kami, serta tidak pula beliau merendahkan kedudukan kami atau memperingatkan umat dari kami (mentahdzir kami).” (Manhaj as-Salaf ash-Shalih, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi)

 

Ketiga: Antara Syaikh Shiddiq hasan Khan dan Syaikh Abdulhay al-Laknawi

Adalah al-‘Allamah Syaikh Abdulhay al-Laknawi rahimahullah, salah seorang tokoh ulama besar yang sezaman dengan Syaikh Shiddiq Hasan Khan (ulama India Abad 13 H), ia sering membantah dan mengkritik Syaikh Shiddiq dalam risalah dan kitab yang ditulisnya, baik dengan isyarat maupun secara terang-terangan. Namun, ketika mendengar kabar kematian Syaikh al-Laknawi, beliau mendoakan rahmat untuknya.

As-Sayyid Ali Hasan, putra Syaikh Shiddiq bertutur: “Tatkala berita kematian al-‘Allamah Abdulhay bin Abdulhalim al-Laknawi sampai kepada ayahku, beliau meletakkan tangannya ke dahi. Sejenak ia menundukkan kepala lalu mengangkatnya kembali dengan air mata berlinang di pipi. Ia mendoakan kebaikan dan rahmat untuk Syaikh al-Laknawi dan berkata: “Hari ini, matahari ilmu telah tenggelam.” Ia melanjutkan: “Sesungguhnya perselisihan yang terjadi di antara kami hanya sebatas penelitian beberapa permasalahan saja.” Dan Syaikh tidak mau makan pada malam berkabungnya itu.”

 

 

 

 

Kalisari, 13 al-Muharram 1435 H/17 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya

Di Balik Kelembutan Seorang Ibu

Ditulis oleh pada 15 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

Di Balik Kelembutan Seorang Ibu

Sungguh istimewa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita, kaum Adam untuk memilih pasangan hidup yang memiliki sifat penyayang. Seorang ibu yang memiliki sifat penyayang akan mewariskan sifat terpuji tersebut kepada putra-putrinya, dan mereka pun akan mewariskan sifat baik tersebut kepada keturunannya, dst. “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur… “ kata beliau. (HR. Abu Dawud, dll. Hadis sahih)

Untuk meretas generasi saleh yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, sifat penyayang saja tidaklah cukup, masih diperlukan poin penting lainnya, dan itu pun telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, di mana dalam membangun sebuah rumah tangga yang mulia, beliau memerintahkan agar kita memilih wanita salehah yang memiliki bekal agama, yang dengannya ia dapat mendidik buah hatinya menjadi insan yang bertakwa. “…Raihlah wanita yang baik agamanya. Bila tidak, engkau akan merugi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seorang penyair bersenandung:

اْلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَـهَا          أَعْدَدْتَ شَعْباً طَيِّبَ اْلأَعْـرَاق

اْلأُمُّ رَوْضٌ إِنْ تَعْهَدْهُ الْحَيَا           بِالـرَّيِّ أَوْرَقَ أَيُّمَا إِيْـرَاق

اْلأُمُّ أُسْتَاذُ اْلأُسْتَاذَةِ الأُلَـى         شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ مَدَى اْلآفَـاق

Ibu ibarat sekolah, bila dipersiapkan dengan sebaik-baiknya

Sama halnya mempersiapkan bangsa yang mulia nasabnya

Ibu laksana taman, bila engkau senantiasa memeliharanya

Niscaya akan tumbuh dedaunan yang rindang di dalamnya

Ibu itu adalah gurunya para segenap guru seluruhnya

Kebaikan mereka berpengaruh di seluruh penjuru dunia

Yang akan diketengahkan pada tulisan kali ini bukanlah penjelasan teori seputar kehidupan rumah tangga atau persiapan-persiapan sebelum mengarunginya. Akan tetapi, yang akan disuguhkan adalah tiga kisah ringkas tentang ulama besar, yang telah dididik oleh tangan-tangan lembut ibunda yang berisi keimanan dan ketakwaan. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi dalam mencari calon istri yang benar-benar baik dan bertakwa, karena di balik itu ada hikmah yang luar biasa, dan itu dapat dirasakan oleh para kaum Adam yang telah beruntung mendapatkannya. Berikut tiga kisah ringkas menarik tersebut. Semoga bermanfaat.

 

Kisah Pertama: Ibunda Sufyan ats-Tsauri

Siapa dari kita yang tidak pernah mendengar nama Sufyan ats-Tsauri? Beliau adalah pakar fikih dan hadis di jazirah Arab, salah satu pemilik mazhab fikih yang masyhur pada masanya, beliau adalah “amirul-mukminin fil-hadits”.

Za’idah rahimahullah berkata: “Sufyan adalah pemimpin kaum muslimin.”

Al-Auza’i rahimahullah menuturkan: “Tidak tersisa seorang alim yang disepakati dengan keridaan bersama oleh umat selain Sufyan.”

Imam mulia dan tokoh agama yang satu ini tak lain merupakan buah dan hasil dari didikan ibunya. Sejarah mencatat pengaruh besar bundanya, keutamaan dan kedudukannya, meski dunia begitu kikir tidak menyebutkan siapa namanya.

Abu Abdillah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Waki’ rahimahullah, ia berbagi cerita: “Ummu Sufyan bertutur kepada Sufyan, ‘Ananda, teruslah engkau menuntut ilmu, aku akan cukupi keperluanmu dengan modal mesin pemintalku ini.

Bundanya dahulu –semoga Allah merahmatinya- bekerja dan memberikan hasil jerih payahnya untuk Sufyan, agar ia dapat meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu. Sang bunda pun sering mencari-cari waktu yang tepat untuk memberikan wejangan dan nasihat kepada Sufyan.

Suatu ketika ia pernah berkata kepada Sufyan rahimahullah sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: “Ananda, sekiranya engkau menulis sepuluh huruf, maka perhatikanlah apakah engkau melihat pada dirimu ada peningkatan rasa takut (kepada Allah), ketenangan dan kewibawaan? bila engkau tidak melihatnya maka ketahuilah, sesungguhnya hal itu akan menimbulkan mudarat dan tidak memberikan manfaat.”

Dari fenomena ini, maka tak heran bila kita melihat Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menduduki jabatan mulia sebagai seorang imam pada masanya. Bagaimana tidak, sebab ia tumbuh dewasa dalam kasih sayang seorang bunda penyayang, ia meneguk air susu seorang ibu yang rajin menyampaikan nasihat kepadanya dan ia pun bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

 

Kisah Kedua: Ibunda Imam al-Auza’i

Abu ‘Amr al-Auza’i rahimahullah adalah pakar fikih dan seorang Imam dari negeri Syam. Beliau imam yang dipercaya dan kokoh dalam keilmuannya.

Abu Ishaq al-Ghazzari rahimahullah menuturkan: “Aku tidak pernah melihat seorang seperti dua orang ini: al-Auza’i dan at-Tsauri.”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata tentangnya: “Ulama telah bersepakat akan keimaman, kemuliaan, tingginya kedudukan dan sempurnanya keutamaan al-Auza’i.”

Beliau pun menuturkan perkataan generasi salaf yang ditujukan kepada al-Auza’i terkait sifat-sifat mulia yang ada padanya, seperti zuhud, sangat berhati-hati, berani menyampaikan yang hak, teguh di atas sunnah, fasih dan sifat mulia lainnya.

Lautan ilmu yang satu ini pun tak luput dari hasil didikan seorang ibu yang agung.  adz-Dzahabi rahimahullah bercerita: “al-Auza’i lahir di Ba’labakka, ia tumbuh dalam keadaan yatim dan fakir pada didikan ibunya. Para raja tak kuasa mendidik anak-anaknya sebagaimana didikan yang dirasakan oleh al-Auza’i tentang kepribadiannya. Tidak pernah terdengar dari lisannya satupun ucapan buruk melainkan orang yang mendengarnya perlu untuk tabayyun langsung kepadanya. Tidak pernah juga aku melihatnya tertawa terbahak-bahak. Bila mulai membahas seputar hari kiamat maka aku berkata, ‘Gerangan, adakah di majelis ini hati yang tidak menangis?!”

 

Kisah ketiga: Ibunda Robi’ah ar-Ra’y

Lain cerita dengan ibunya Robi’ah, guru Imam Malik bin Anas. Ia menghabiskan uang sebesar 30.000 dinar yang ditinggalkan suaminya untuk mendidik putranya, Robi’ah. Sang ayah, Farukh pergi ke medan perang, tidaklah ia kembali ke rumah kecuali setelah putranya menjadi dewasa dan menyandang predikat Syaikh. Sebuah predikat yang dibeli oleh ibunya dengan harta suaminya yang tidak sedikit tersebut. Sang suami pun memuji perbuatan baik istrinya.

Mari kita menyimak kisah tentang Robi’ah dari Ibnu Khallikan berikut: “Dahulu Farukh, ayahanda Robi’ah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah pergi bersama utusan menuju Khurasan, sementara Robi’ah pada waktu itu masih berupa janin di perut ibunya. Sang ayah meninggalkan 30.000 dinar untuk bekal hidup istrinya.

Setelah dua puluh tujuh tahun berlalu Sang ayah kembali ke kota Madinah dengan menunggangi seekor kuda dengan membawa sebuah tombak. Ia turun dari kuda dan mengetuk pintu rumahnya dengan tombak. Lalu Robi’ah keluar dari rumahnya, (melihat pemandangan seperti itu) ia berkata: ‘Hai musuh Allah, engkau hendak menyerang rumahku?!’ Farukh pun menimpali, ‘Hei musuh Allah, justru engkau yang masuk mendatangi istriku.”

Keduanya pun melompat bersiap-siap untuk bertarung, hingga tetangga kanan kiri berdatangan. Akhirnya cerita itu sampai ke telinga Imam Malik bin Anas (murid Robi’ah), mereka semua datang untuk menolong Robi’ah, sehingga kegaduhan semakin menjadi. Satu sama lain saling mengatakan, ‘Aku tidak akan melepaskanmu.’

Ketika melihat Imam Malik datang maka semuanya terdiam. Imam Malik berkata,’Wahai kakek, engkau boleh masuk selain rumah ini.’

Farukh  berkata, ‘Ini rumahku, saya adalah Farukh.’

Dari dalam rumah sang istri mendengar suara suaminya, ia keluar dan berkata, ‘dia adalah suamiku, dan ini (seraya menunjuk Robi’ah) adalah anakku yang ia tinggalkan dalam keadaan masih janin di dalam perutku.’

Akhirnya mereka berdua saling berpelukan dan menangis sedih. Farukh masuk ke dalam rumahnya seraya bertanya untuk memastikan, ‘Ini benar anakku”?

Sang istri menjawab, ‘Iya, benar.’

Lalu Farukh berkata, ‘Tolong keluarkan harta yang dulu aku tinggalkan padamu.’

Sang istri menjawab seraya berpaling, ‘Aku telah menyimpannya dan akan aku mengeluarkannya untukmu.’

Di kala itu, Robi’ah keluar menuju masjid dan duduk di majelis untuk menyampaikan ilmu yang dihadiri oleh Imam Malik, al-Hasan al-Bashri dan petinggi-petinggi kota Madinah lainnya. Orang-orang pun ramai berkumpul di sekelilingnya.

Kemudian Sang istri berkata kepada suaminya, ‘Silakan kamu keluar dulu dan kerjakanlah salat di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Lalu Farukh keluar menuju masjid. Sesampainya di sana, ia melihat majelis ilmu yang begitu ramai. Ia pun mendekat dan diam sambil mengamatinya. Melihat ayahnya datang, Robi’ah menolehkan kepalanya agar sang ayah tidak melihatnya, dan waktu itu ia mengenakan penutup kepala yang panjang. Sang ayah ragu-ragu, lalu ia bertanya kepada orang-orang, ‘Siapakah nama ulama ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Dia adalah Robi’ah bin Abu Abdurrahman.’ Mendengar nama itu ia bergumam, ‘Sungguh Allah telah mengangkat derajat putraku.’

Ia pun bersegera pulang menuju rumahnya dan berkata kepada Sang istri, ‘Sungguh, aku melihat putramu dalam keadaan yang tidak pernah aku melihat seorang ulama dan pakar fikih pun sepertinya.’

Mendengar perkataan suaminya itu Sang Istri langsung mengatakan, ‘Lantas, mana yang lebih engkau cintai, 30.000 dinar atau keadaan putramu sekarang ini?

Ia menjawab, ‘Demi Allah, tentu saja dia yang lebih aku pilih.’

Sang istri lalu mengatakan, ‘Aku telah menggunakan seluruh hartamu itu untuk mendidiknya hingga seperti sekarang ini.’

Farukh menutup pembicaraan seraya mengatakan, ‘Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakan harta tersebut.’

 

Ikhtitam

Tiga cerita tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan kisah lainnya. Kisah tentang bagaimana pengaruh besar Sang bunda dalam mendidik buah hatinya. Maka itu, penting bagi anda untuk mencari dan terus berusaha untuk mendapatkan istri yang salehah, yang dari rahimnya dapat melahirkan pemuda-pemuda besar, yang dapat membawa Islam menuju kejayaannya. Namun, mencari wanita seperti itu tidaklah mudah. Perbaikilah diri anda, semoga dimudahkan untuk mendapatkannya.

 

Catatan:

Tiga kisah ringkas di atas di ambil dari kitab ath-Thariiq ilaa al-Walad ash-Shaalih (Upaya Mendapatkan Anak Salih) karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali, Penerbit Dar adh-Dhiya’, tahun 1410 H, hal. 14-22.

 

 

 

Kalisari, 11 al-Muharram 1435 H/15 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya

Kisah Qoilulah Generasi Salaf

Ditulis oleh pada 5 Des 2012 di Kisah Teladan | 3 komentar

 

Telah diketengahkan pada tulisan sebelumnya tentang indahnya sunnah qoilulah dengan beberapa keutamaannya. Pada tulisan ini akan disampaikan beberapa kisah qoilulah generasi terbaik umat ini. Semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya

Kisah Empat Ulama Bernama Muhammad

Ditulis oleh pada 2 Des 2012 di Kisah Teladan | 0 komentar

IMG_2136

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menceritakan bahwasanya pernah ada suatu perjalanan (rihlah) yang mengumpulkan empat orang ulama yang sama-sama bernama Muhammad: Muhammad bin Jarir ath-Thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi dan Muhammad bin Harun ar-Ruyani rahimahumullah jami’an.

Baca Selanjutnya

Karena Itulah Aku Masuk Islam

Ditulis oleh pada 30 Nov 2012 di Kisah Teladan | 0 komentar

 

Al-Husain bin Fahm rahimahullah berkata: Aku mendengar Yahya bin Aktsam rahimahullah berbagi cerita:

Dahulu Ma’mun –pada waktu itu ia telah menjadi seorang Amir- mempunyai majelis untuk berdiskusi. Bersamaan dengan datangnya pada hadirin,

Baca Selanjutnya

Non Muslim pun Mendoakan Kebaikan Untuk Beliau

Ditulis oleh pada 27 Nov 2012 di Kisah Teladan | 0 komentar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّه الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيْلَ إِنَّ اللَّه يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ فَيُنَادِيْ جِبْرِيْلُ فِيْ أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي اْلأَرْضِ

Apabila Allah mencintai seorang hamba,

Baca Selanjutnya

Yang Penting Bagiku Adalah Waktu

Ditulis oleh pada 20 Nov 2012 di Kisah Teladan | 0 komentar

Syaikh al-Albani rahimahullah pernah bercerita:

“Setelah aku membeli sebidang tanah di luar kota, karena harga tanah di sana murah, aku langsung membangun sebuah rumah lengkap dengan sebuah toko. Setelah semuanya beres, aku baru sadar

Baca Selanjutnya

Kisah Apik Dari Balik Mobil Yang Terbalik

Ditulis oleh pada 16 Nov 2012 di Kisah Teladan | 0 komentar

Syaikh Ali Khasysyan bercerita dalam sebuah artikelnya yang berjudul Nashir al-Hadits wa Mujaddid as-Sunnah, ‘asya wahid al-‘Ashr wa Ashbaha Faqid al-‘Ashr, yang pernah dimuat pada majalah asy-Syaqo`iq, di dalamnya ia bercerita tentang Syaikh

Baca Selanjutnya