Di Balik Perselisihan Ulama

Ditulis oleh pada 17 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 pemilih, rata-rata: 4,00 dari 5)
Loading...
Di Balik Perselisihan Ulama

Perselisihan merupakan sunnatullah yang terjadi di alam semesta ini. Tidak hanya terjadi di antara dua pemeluk agama, suku atau dua kubu, di tengah keluarga kecil pun perselisihan adalah suatu kewajaran. Bahkan di kalangan para ulama hal itu pun tak bisa dihindarkan. Begitu banyak perselisihan di kalangan mereka, baik berkaitan dengan permasalahan besar maupun kecil. Hanya saja, tidak semua perselisihan yang terjadi di tengah mereka menyebabkan permusuhan. Di antara bukti nyata dari hal ini dapat disimak pada tiga kisah singkat di bawah ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

 

Pertama: Antara Syaikh al-Albani dan Syaikh at-Tuwaijiri

Contoh nyata dari ulama abad ke 20, yaitu perselisihan yang terjadi Syaikh al-Albani dengan Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahumallah dalam beberapa permasalahan. Satu sama lain saling membantah, setiap orang memiliki pandangan sendiri-sendiri. Suatu ketika Syaikh al-Albani datang ke kota Riyadh, tepatnya pada tahun 1410 H, dan ditemui oleh Syaikh Hamud at-Tuwaijiri pada acara perjamuan makan malam di rumah seorang ulama. lalu Syaikh Hamud mengundang Syaikh al-Albani untuk berkunjung ke rumahnya, Syaikh al-Albani pun memenuhi undangannya. Datanglah Syaikh al-Albani ke rumah Syaikh Hamud, dan ternyata keduanya saling menghormati satu sama lain dan saling mengutamakan saudaranya. Lenyaplah perselisihan dan yang tersisa adalah persaudaraan dan saling sayang. Sekiranya engkau bercerita bahwa Syaikh al-Albani pernah berkunjung ke rumah Syaikh Hamud niscaya cerita ini tidak akan percaya, karena selama ini yang masyhur dari keduanya adalah adanya perselisihan dalam beberapa permasalahan.

Lebih dari itu, salah satu putra Syaikh Hamud bercerita bahwa di antara hal yang membuat takjub para tamu undangan adalah, bahwa beliau sangat menghormati Syaikh al-Albani, beliau sendiri yang menyuguhkan makanan kepadanya dan lebih mengutamakan tamunya dari pada dirinya sendiri, dan ketika pulang beliau mengantar Syaikh al-Albani sampai depan pintu. Semoga Allah merahmati keduanya. (Ma’aalim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, Syaikh as-Sadhan)

 

Kedua: Antara Syaikh al-Albani dan Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i

Cerita kedua masih seputar Syaikh al-Albani. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafizhahullah bercerita: “Adapun yang kedua ialah kisah bersama Syaikh kita al-Albani rahimahullah, yakni sikap beliau terhadap Ustadz kami Syaikh Muhammad Nasib ar-Rifa’i rahimahullah, Syaikh al-Albani tidak mau menegur Syaikh Muhammad Nasib beberapa tahun dikarenakan permasalahan keyakinan/akidah dalam ranah ijtihad. Meski demikian Syaikh al-Albani sangat tahu bahwa pada waktu itu kami sering mendatangi Syaikh Muhammad Nasib dan menyusun jadwal kajian yang diisi oleh beliau. Kami juga ikut membantu beliau dalam merampungkan beberapa tulisannya, sebagaimana kami pun pernah berkunjung ke rumah beliau dengan beberapa tamu mulia dari sana sini, dst. Namun, demi Allah, tidak pernah kami melihat Syaikh al-Albani suatu hari marah dengan sikap kami tersebut, beliau juga tidak meminta kami untuk mengubah sikap tersebut, tidak mengancam atau menguji kami, dan tidak pula mengharuskan kami mengikuti beliau rahimahullah, apalagi sampai tidak tegur sapa dengan kami dan meragukan manhaj salaf kami, serta tidak pula beliau merendahkan kedudukan kami atau memperingatkan umat dari kami (mentahdzir kami).” (Manhaj as-Salaf ash-Shalih, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi)

 

Ketiga: Antara Syaikh Shiddiq hasan Khan dan Syaikh Abdulhay al-Laknawi

Adalah al-‘Allamah Syaikh Abdulhay al-Laknawi rahimahullah, salah seorang tokoh ulama besar yang sezaman dengan Syaikh Shiddiq Hasan Khan (ulama India Abad 13 H), ia sering membantah dan mengkritik Syaikh Shiddiq dalam risalah dan kitab yang ditulisnya, baik dengan isyarat maupun secara terang-terangan. Namun, ketika mendengar kabar kematian Syaikh al-Laknawi, beliau mendoakan rahmat untuknya.

As-Sayyid Ali Hasan, putra Syaikh Shiddiq bertutur: “Tatkala berita kematian al-‘Allamah Abdulhay bin Abdulhalim al-Laknawi sampai kepada ayahku, beliau meletakkan tangannya ke dahi. Sejenak ia menundukkan kepala lalu mengangkatnya kembali dengan air mata berlinang di pipi. Ia mendoakan kebaikan dan rahmat untuk Syaikh al-Laknawi dan berkata: “Hari ini, matahari ilmu telah tenggelam.” Ia melanjutkan: “Sesungguhnya perselisihan yang terjadi di antara kami hanya sebatas penelitian beberapa permasalahan saja.” Dan Syaikh tidak mau makan pada malam berkabungnya itu.”

 

 

 

 

Kalisari, 13 al-Muharram 1435 H/17 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *