Kisah Qoilulah Generasi Salaf

Ditulis oleh pada 5 Des 2012 di Kisah Teladan | 3 komentar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 pemilih, rata-rata: 1,00 dari 5)
Loading...

 

Telah diketengahkan pada tulisan sebelumnya tentang indahnya sunnah qoilulah dengan beberapa keutamaannya. Pada tulisan ini akan disampaikan beberapa kisah qoilulah generasi terbaik umat ini. Semoga bermanfaat.

1.     Atsar Umar bin Khattab

Atsar ini telah kami bawakan pada tulisan sebelumnya. Adalah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, tatkala ia mendengar sebuah kabar, bahwa seorang pekerjanya tidak tidur siang, Umar mengirim surat kepadanya yang berisi: Amma ba’du, tidur sianglah engkau, karena setan itu tidak tidur siang.

As-Sa-ib pernah bercerita: “Adalah Umar radhiyallahu ‘anhu pernah melewati kami di tengah hari –atau mendekati tengah hari- lalu ia berkata: Bergegas tidur sianglah kalian, waktu yang tersisa biar untuk setan. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 939)

2.   Kisah qoilulah Ali bin Abi Thalib

Kisah ini berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang dipanggil dengan kunyah Abu Thurab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkunjung ke rumah Fatimah radhiyallahu ‘anha. Namun beliau tidak mendapatkan Ali berada di sana. Beliau bertanya: Dimana suamimu? Fatimah menjawab: Diantara kami ada sedikit masalah, sehingga ia marah kepadaku, lalu ia keluar dan tidak tidur siang di sisiku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang: Coba lihat, dimana dia berada.

Setelah beberapa saat orang itu datang dan berkata: Wahai Rasulullah, dia sedang tidur di masjid. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Ketika itu, ia sedang tidur siang di masjid. Sementara selendangnya terjatuh dari badannya, dan debu pun menerpanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membersihkan debu dari badannya seraya bersabda: Bangunlah wahai abu thurab, Bangunlah wahai abu thurab. (HR. al-Bukhari, No. 441, 3703, 6204, 6280, Muslim, no. 2409)

3.     Atsar Ibnu Abbas

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita, mengisahkan perjalanan dirinya dalam menuntut ilmu: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, aku berkata kepada seorang dari kaum Anshar: Kemarilah engkau, ayo kita bertanya kepada Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mumpung jumlah mereka saat ini masih banyak.

Orang itu berkata: Engkau ini aneh, ya Ibnu Abbas, apakah engkau mengira orang-orang nantinya akan membutuhkanmu? Sementara itu di tengah-tengah mereka masih ada sahabat dan orang-orang senior lainnya.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma melanjutkan: Orang itupun pergi, lalu aku mulai bertanya tentang hadits kepada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sampai kepadaku kabar tentang hadits yang ada pada seorang sahabat, aku langsung pergi untuk mendatangi rumahnya. Tatkala itu ia sedang tidur siang, maka akupun berbaring dengan selendangku di depan pintu rumahnya, sampai-sampai debu beterbangan menerpa wajahku. Ketika keluar ia berkata: Wahai sepupu Rasulullah, apa tujuanmu datang kemari, mengapa engkau tidak mengirim utusan agar aku yang datang sendiri menemuimu?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab: Aku lebih berhak untuk mendatangimu. Kemudian akupun bertanya seputar hadits kepadanya. Orang dari kaum Anshar itu ternyata masih hidup. Hingga akhirnya pada suatu saat ia melihatku, ketika orang-orang berkumpul di sekitarku untuk menimba ilmu dariku. Ia berucap: Pemuda ini ternyata lebih cerdas dari diriku.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga pernah berkata: Aku mendapati kebanyakan ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada pada perkampungan dari kaum Anshar ini. Sungguh, aku dahulu pernah tidur siang di depan pintu rumah seorang dari mereka. Andai saja aku mau, pasti ia sudah mengizinkan aku untuk masuk. Namun, aku tidak akan melakukannya, supaya dia ridha dalam menyampaikan ilmunya. (Hilyatul ‘Alim al-Mu’allim wa Bulghatuth Thabil al-Muta’allim, hal. 26)

4.     Atsar Abdullah bin Mas’ud

Dari as-Saib bin Yazid, dari Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Terkadang beberapa orang Quraisy duduk-duduk di depan pintu rumah Ibnu Mas’ud radha. Tatkala matahari telah tergelincir beliau berkata: Bangkit dan tidur sianglah kalian, waktu yang tersisa biar untuk setan.

Kemudian tidaklah beliau melewati seseorang, melainkan ia menyuruhnya bergegas untuk mengerjakan tidur siang. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 939)

5.     Atsar Anas bin Malik

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berucap: Kami dahulu bersegera pergi ke shalat jum’at, kemudian kami tidur siang setelah mengerjakan shalat jum’at. (HR. al-Bukhari, no. 905 & 940)

6.     Atsar Sahl bin Sa’ad

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: Kami dahulu tidak tidur (tengah hari) dan makan siang, melainkan setelah mengerjakan shalat jum’at.

Dalam redaksi yang lain disebutkan: Kami dahulu mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baru tidur siang. (HR. al-Bukhari, no. 939, 941, 2349, 5403, 6248, Muslim, no. 859)

7.     Komenatar Khowwat bin Jubair

Khowwat bin Jubair radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Tidur di permulaan hari adalah kebodohan, dipertengahannya adalah akhlak (terpuji), dan diakhir hari merupakan perbuatan dungu. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: Ucapannya, “dan di akhir hari merupakan perbuatan dungu“, pada hakekatnya, dungu adalah –sebagaimana di sebutkan di kitab an-Nihayah– meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, meskipun ia tahu bahwa itu adalah buruk. Dari sini dapat dipahami, adanya pujian bagi mereka yang mengerjakan tidur siang hari. (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942 pada catatan kaki)

8.     Komentar seputar qoilulah

Al-Khallal berkata: Dianjurkan tidur pada pertengahan hari.

Abdullah berkata: Ayahku dahulu selalu tidur tengah hari, baik musim dingin maupun panas, ia tidak pernah meninggalkannya dan mengajakku untuk mengerjakannya. Beliau bertutur: Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang.

Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, Muhammad, ia berkata: Tidur tengah hari dapat menambah kecerdasan. Abdullah bin Syubrumah bertutur: Tidur tengah hari sebanding dengan minum obat. Sebagian orang bijak berkata: Rasa kantuk dapat menghilangkan kecerdasan, sedangkan tidur siang dapat menambah kecerdasan. (Al-Adab asy-Syar’iyyah, juz 3, hlm 146-148)

selesai, walhamdulillah.

 

3 Komentar

  1. berarti jepang yang menyarankan ada jam tidur siang bagi karyawan malah sudah menerapkan ilmu Umar bin Khattab yaa…
    http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/

    • Iya, betul. Bahkan saya juga pernah membaca, di dunia eropa semisal Amerika dll sudah ada yang menerapkan hal semacam ini. Semoga kita dimudahkan menerapkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian kita. amin.

      • aamiin ya robb

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *