Kisah Taubat Pembunuh Berdarah Dingin

Ditulis oleh pada 22 Okt 2012 di Kisah Teladan | 2 komentar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum Ada Bintang)
Loading...
Kisah Taubat Pembunuh Berdarah Dingin

Setiap manusia pasti pernah bersalah, pernah melakukan dosa. Dan sebaik-baik orang yang pernah berbuat salah dan berdosa adalah yang bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tulus dan ikhlas.

Di dalam sebuah riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Setiap anak Adam banyak salahnya, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang selalu bertaubat (kepada Allah). (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dll.)

Namun, terkadang kita dapati segelintir orang yang putus asa dan enggan bertaubat. Bukannya ia tidak mau, tapi ia menduga bahwa pintu taubat Allah telah tertutup baginya, Allah tidak akan mengampuninya. Ia merasa sudah terlalu banyak dosa yang diperbuat, terlalu berat maksiat yang dikerjakan. Padahal Allah adalah Rabb Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Maha Menerima taubat setiap hamba-Nya.

Oleh karena itu, jika kita berbuat salah atau bermaksiat kepada-Nya, marilah kita bersegera kembali dan bertaubat kepada-Nya. Jangan menunggu setelah dewasa atau berumur tua. Khawatir kematian akan segara menyusul kita. Cepatlah bertaubat sebelum ruh ini sampai di tenggorokan atau sebelum matahari muncul dari barat. Karena pada dua kondisi ini, taubat seorang hamba tidak akan diterima.

Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, kita akan menyuguhkan sebuah kisah apik tentang taubatnya seorang pembunuh berdarah dingin yang telah menebas seratus leher manusia. Meskipun demikian, Allah tetap mengampuni dosanya dan menerima taubatnya.

ALUR CERITA

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dahulu sebelum kalian ada seorang (dari bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa. Kemudian ia bertanya siapa yang paling tahu tentang agama yang ada di dunia ini. Lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan menjelaskan, bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa, apakah ada kesempatan untuk taubat bagi dirinya? Rahib itu menjawab, “Tidak.” Akhirnya ia membunuh rahib itu sekalian, sehingga lengkaplah seratus jiwa yang telah melayang di tangannya.

Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling tahu agama yang ada di dunia ini. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu). Orang itu bercerita, bahwasanya ia telah menebas 100 jiwa, apakah masih ada kesempatan bertaubat baginya? Seorang alim itu menjawab, “Ya, ada, siapa yang menghalangi dirimu untuk bertaubat? Pergilah engkau ke kampung ini, karena sesungguhya di sana ada sekelompok manusia yang beribadah hanya kepada Allah semata, beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke kampungmu yang dulu, karena kampung itu adalah kampung yang buruk.

Lalu ia pun pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Tatkala sampai di tengah perjalanan, ternyata kematian datang menjemputnya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab berseteru tentang status orang ini.

Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat kepada Allah seraya menghadapkan hatinya kepada-Nya.” Malaikat azab berkata: “Sesungguhnya ia belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali.”

Kemudian datanglah malaikat yang berwujud manusia, lalu ia dijadikan sebagai hakim (pemutus perkara) di antara mereka berdua. Malaikat yang berwujud manusia itu berkata: “Ukurlah jarak antara dua kampung tersebut. Ke arah mana ia lebih dekat, maka berarti ia lebih berhak di masukkan ke sana.”

Lalu mereka mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat kepada kampung tujuan. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat rahmat. (muttafaq ‘alahi)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Maka ia lebih dekat sejengkal dengan kampung yang baik itu, dan ia pun digolongkan ke dalam penduduknya.

Di dalam riwayat yang lain pula disebutkan, “Kemudian Allah mewahyukan kepada bumi untuk menjauhkan jarak dari kampung halamannya dan mendekatkan kepada kampung tujuan.”

Lalu malaikat yang berupa manusia itu berkata: “Hitunglah jarak antara keduanya.” Ternyata mereka mendapati orang itu sejengkal lebih dekat ke kampung tujuannya. Akhirnya ia pun diampuni. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

PETIKAN FAEDAH

Kisah pendek di atas mengandung banyak faedah, berikut di antaranya:

1)      Pada asalnya manusia adalah cenderung kepada kebaikan dan Islam. Namun terkadang di tengah perjalanan banyak godaan syubhat (pemikiran yang rancu dan salah) dan nafsu syahwat. Dan manusia yang terbaik adalah yang dapat istiqomah di jalan Allah ta’ala hingga akhir hayatnya.

2)      Keutamaan orang yang berilmu meskipun sedikit ibadahnya dibanding dengan orang yang tidak berilmu meskipun banyak ibadahnya.

3)      Orang yang bodoh adalah musuh bagi dirinya sendiri. Sebagaimana rahib dalam kisah di atas dibunuh lantaran salah dalam memberi jawaban atau fatwa.

4)      Seorang yang berilmu mencari hidayah dengan cahaya kebenaran dan ilmu, sehingga ia diberi taufik oleh Allah untuk mendapatkan hidayah itu, sehingga ia dapat mengambil manfaat dan ilmunya pun bermanfaat bagi sesama.

5)      Pintu taubat senantiasa terbuka dari segala kesalahan dan dosa, baik yang kecil maupun yang besar, meskipun sebanyak buih dilautan atau sebesar bumi tempat kita berpijak.

6)      Orang yang bertaubat kepada Allah ta’ala dengan tulus akan diterima di sisi-Nya sebesar apapun dosa yang pernah ia goreskan.

7)      Kemampuan malaikat -dengan izin Allah- untuk merubah rupa menjadi seperti manusia, sebagaiman Malaikat Jibril terkadang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwujud seorang sahabat mulia Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ‘anhu.

8)      Disyariatkannya berpindah atau hijrah dari kampung yang buruk menuju kampung yang lebih baik agar lebih mudah untuk beribadah dan mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla.

9)      Anjuran untuk bersahabat dengan orang-orang yang berilmu, shalih dan bertakwa.

10)  Barang siapa yang hijrah ke jalan Allah dengan setulus hati, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjamin kebaikan bagi dirinya.

Inilah sepuluh faedah yang dapat kita petik dari kisah pendek nan apik ini. Faedah yang lainnya masih banyak lagi. Semoga dapat kita pahami dengan baik dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk bertuabat kepada-Nya tatkala salah dan berdosa. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk. Amin ya Rabbal ‘alamin.

2 Komentar

  1. thank infonya..izin copas gan agar yang lain juga tau

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *