Tulisan Di-tag "kisah nyata"

Lima Kisah Sarat Faedah

Ditulis oleh pada 19 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

Lima Kisah Sarat Faedah

Di antara cara jitu dalam menuntut ilmu sekaligus trik manjur untuk membunuh rasa jemu adalah dengan membaca kisah nyata atau cerita pada pendahulu. Darinya kita dapat mengambil banyak pelajaran. Kita dapat mencontoh sifat baik yang disampaikan atau menjauhi sifat buruk yang disuguhkan. Oleh karenanya, berikut kami bawakan lima kisah yang semoga berisi sarat faedah. Selamat menyimak.

 

Mana yang lebih Menakjubkan?

Di antaranya adalah kisah beberapa penduduk kota Baghdad dengan Muhammad bin Abdul Wahid al-Bawardi Abu ‘Amr az-Zahid (wafat 345 H). Ia terkenal dengan kekuatan hafalannya yang luar biasa. Apabila ditanya tentang sebuah perkara maka dia akan menjawab dengan jawaban dari dirinya sendiri alias mengarang jawaban atau berdusta. Anehnya, bila ditanya lagi tahun depannya ia bisa menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban sebelumnya. Hafalan kuat namun pandai berdusta.

Ada sebuah riwayat, disebutkan bahwa sekelompok penduduk Baghdad melewati sebuah jembatan, lalu mereka mengingat kedustaan yang dilakukan Abu ‘Amr. Seorang dari mereka berkata: “Aku akan balik kalimat قنطرة (qontoroh/jembatan) menjadi هرطنق, lalu aku akan tanyakan artinya kepada dia.”

Ketika mereka menemui Abu ‘Amr, orang itu bertanya: “Syaikh apa arti kata هرطنق dalam bahasa Arab? Lalu ia menjawabnya dengan panjang lebar. Orang-orang tertawa mendengarnya lalu mereka izin pergi.

Setelah berlalu satu bulan, mereka mengirim utusan untuk menanyakan kata yang sama kepada Abu ‘Amr, namun ia menjawab: “Bukankah aku pernah ditanya seputar masalah ini dahulu, bla bla bla?!” tapi kemudian dia menjawab dengan jawaban persis seperti jawaban yang sebelumnya sebulan lalu. Mendengar hal itu orang-orang berkata: “Kami tidak tahu, mana yang lebih mengherankan dari dua hal tersebut; apakah kuatnya hafalannya bila itu ilmu, atau dari dustanya bila ia berdusta?!

 

Sang Pengarang

Kisah selanjutnya masih dari Abu ‘Amr az-Zahid. Dihikayatkan bahwa Mu’izz ad-Daulah Ibnu Buwaih mengangkat seorang berkebangsaan Turki untuk menjadi kepala polisi di Baghdad, namanya خواجا (khowaajan). Kabar tersebut sampai kepada Abu ‘Amr az-Zahid. Pada waktu itu ia sedang mendikte kitabnya al-Yawaaqiit dalam bidang bahasa. Lalu ia berkata kepada para jamaah di majelisnya: “Tulislah Yaaquutah khowaajan (ياقوتة خواجا), al-khowaaj asal bahasanya dari kata al-Juu’/lapar (الجوع). Kemudian dia mendiktekan akar kata tersebut. Ketik itu orang-orang sudah merasakan kalau ia telah berdusta.

 

Pertanyaan dan Jawaban sama-sama Dusta

Adalah Sha’id bin al-Hasan al-Baghdadi (wafat tahun 417), sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah, meski ia fasih namun dituduh banyak berdusta. Maka itu orang-orang menolak kitabnya dalam bidang bahasa yang berjudul al-Fushuush, sehingga kitab tersebut tidak masyhur di tengah manusia.

Dia adalah orang yang lucu dan begitu cepat menjawab pertanyaan. Pernah suatu ketika di majelis ada laki-laki buta bertanya kepadanya tentang arti dari kata al-Haronqol (الحرنقل) yang sengaja ia buat asal-asalan. Lalu Sha’id sesaat menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa lelaki buta itu mengarang-ngarang kalimat itu, kemudian ia mengangkat kepalanya dan menjawab: “Artinya adalah, laki-laki yang mendatangi wanita yang suaminya buta.” Para hadirin pun tertawa mendengarnya, sedangkan lelaki buta itu malu sendiri. Inilah yang namanya balasan sesuai dengan perbuatan. Meski keduanya sama-sama tidak baik.

 

Banyak Koleksi Buku namun Miskin Ilmu

Abul Abbas Ahmad bin Ali al-Abar bercerita: “Aku pernah melihat seorang berkumis tipis di daerah al-Ahwa’, aku kira dia membeli banyak kitab yang penuh berisi fatwa-fatwa. Ketika orang-orang (di sekitar) sedang membicarakan tentang ahlul hadis, ia berkata:”Mereka tidak ada apa-apanya, tidak bisa menandingi yang lainnya.”

Lalu aku berkata kepadanya, “Salat kamu pasti tidak baik ya?” Dia bertanya untuk meyakinkan, “Maksudmu, saya?!!”

Aku menjawab: “Iya, apa kamu hafal hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang doa iftitah dan mengangkat tangan ketika takbir?” mana hadis yang kamu hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika meletakkan tangan di atas lutut?! Terus mana juga hadis yang engkau hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud?!”

Ia pun terdiam. Aku berkata lagi, “Mengapa engkau tidak mau berbicara?! Bukankah aku telah mengatakan salatmu tidak baik?! Engkau bisanya hanya ikut-ikutan saja, ketika disampaikan kepadamu bahwa salat subuh dua rakaat dan salat zuhur empat rakaat, engkau menurut saja.! Maka itu, mendalami hal tersebut lebih baik dari pada dirimu membicarakan para ulama hadis, justru engkau yang tidak ada apa-apanya, bahkan tidak bisa apa-apa.!”

 

Ketika menerjemahkan kisah ini, teringat aku dengan peristiwa sekitar sebelas tahun silam, tepatnya tahun 2002, ketika ada daurah muqabalah yang diisi oleh para dosen Universitas Islam Madinah di Ma’had Taruna al-Qur’an Jogja. Waktu itu ada segelintir orang yang mendekati seorang Syaikh di sana dan menyampaikan sebuah pertanyaan kepada beliau. Mereka bertanya perihal Syaikh Robi’ waffaqohullah yang tidak lagi menjadi barisan pengajar di Universitas Islam Madinah, apakah sebabnya?

Seketika itu Syaikh tersebut marah dan mengatakan, “Kamu sudah tahu rukun-rukun salat? Itu lebih baik bagi dirimu dari pada mengurusi permasalahan ulama,” demikian kira-kira jawaban dari beliau. Mereka pun malu dan diam seribu bahasa.

Serupa dengan kisah di atas, tidak hafal satu hadis tentang gerakan salat sudah berani mencela ulama hadis. Yang ini belum paham rukun-rukun salat malah menyibukkan diri dengan urusan orang lain yang tidak penting baginya. Allahul-musta’aan.

 

Anti Fanatik

Dahulu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah membenci berdebat dengan ahlu bid’ah. Imam al-Ghazali rahimahullah menghikayatkan di dalam kitabnya al-Munqizh bahwa beliau mengingkari karya al-Harits al-Muhasibi rahimahullah yang membantah Muktazilah.

Al-Harits mengatakan: “Membantah bid’ah hukumnya wajib.”

Imam Ahmad menjawab: “Iya, benar. Namun engkau menyebutkan syubhat mereka baru kemudian membantahnya. Dikhawatirkan orang-orang hanya membaca syubhatnya saja dan tidak menoleh kepada jawabannya.”

Al-Ghazali berkomentar seraya menunjukkan sikapnya, “Apa yang disebutkan oleh Ahmad itu benar apabila syubhatnya belum menyebar dan masyhur di tengah manusia. Namun jika sudah menyebar, maka syubhat itu wajib dijawab. Tentu saja tidak mungkin bisa dijawab melainkan disebutkan syubhatnya terlebih dahulu.”

 

 

Catatan:

Beberapa perkataan dan kisah nyata di atas diambil dari dua kitab al-Ta’aalum wa Atsaruhu ‘alaa al-Fikri wa al-Kitab dalam al-Majmuu’ah al-‘Ilmiyyah karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah, cetakan Dar al-‘Ashimah.

 

 

Kalisari, 15 al-Muharram 1435 H/ 19 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya

Kisah Nyata Orang-Orang Sok Tahu

Ditulis oleh pada 16 Nov 2013 di Menuntut Ilmu | 2 komentar

Kisah Nyata Orang-Orang Sok Tahu

Ilmu harus ada sebelum berkata dan berbuat. Bila beramal tanpa ilmu dapat membinasakan, maka berfatwa tanpa ilmu dapat menyesatkan. Adapun orang yang tidak berilmu namun menampakkan dirinya seolah-olah berilmu, dia adalah orang sombong yang sok pintar dan sok tahu. Kita berlindung kepada Allah azza wa jalla dari sifat buruk ini.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah mengatakan, “Hati-hati! Jangan sampai jadi Abu Syibr (Abu Sejengkal). Sebagaimana telah dikatakan, ilmu itu terdiri dari tiga jengkal (tingkatan): siapa yang baru masuk pada jengkal pertama akan sombong, ketika naik ke jengkal kedua mulai tawaduk (rendah hati), dan siapa yang naik hingga jengkal ketiga ia tahu bahwa dirinya tidak tahu (karena begitu luasnya samudra ilmu).”

Saudaraku, beliau menasihati kita agar tidak istiqomah pada jengkal pertama, ilmu baru sedikit, namun sombongnya amit-amit. Ilmu belum ada, tapi ucapan dan fatwa membahana. Sehingga gelar yang pantas disandang oleh orang seperti ini adalah Abu Syibr alias Abu Sejengkal alias Si Bodoh yang Sombong.

Fenomena sok tahu banyak permasalahan agama banyak menjangkiti para penuntut ilmu. Bahaya terburuk yang dihasilkannya ialah dapat menyeret kepada berkata tentang agama tanpa ilmu.  Syaikh Bakr Abu Zayd rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya sikap sok tahu merupakan tangga menuju berkata dalam agama tanpa ilmu.”

Orang yang sok tahu melupakan ilmu dan tidak menjaganya, berusaha menjadi balig padahal belum waktunya, ia gunakan kebaikan untuk melakukan keburukan.

Ibnu Hajar al-‘Asqolani rahimahullah mengatakan: “Bila seseorang berkata tidak sesuai keilmuannya, niscaya ia akan membawa berbagai hal yang luar biasa nyelenehnya.”

Di antara doa al-Hasan al-Basri rahimahullah dahulu adalah, “Ya Allah, aku mengeluhkan kepada-Mu buih kotor ini (yakni fenomena sok tahu).”

Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit buruk yang dapat menyeret kepada berkata tanpa ilmu ini.

 

KISAH NYATA ORANG SOK TAHU

Bila melihat realita zaman sekarang, banyak sekali kita dapati orang-orang yang sok pintar dan sok tahu. Sekiranya kita berusaha mengumpulkannya, maka akan dapat tersusun dalam beberapa jilid kitab tebal. Sekiranya fenomena sok tahu tersebut dalam urusan dunia, maka itu masih ringan. Namun, yang sangat disayangkan dan begitu menyedihkan, ternyata fenomena nyata tersebut banyak terjadi dalam urusan agama dan perkara akhirat. Hanya kepada Allah kita banyak-banyak beristighfar.

Yang akan disampaikan di sini adalah beberapa kisah sok tahu dari orang-orang dahulu –lalu bagaimana di zaman sekarang?!!- yang tercatat rapi di dalam kitab-kitab para ulama. Semoga kita dimudahkan untuk mengambil pelajaran darinya.

 

Kisah Pertama: Mufti Khunfusyar

Singkat cerita, dahulu ada seorang mufti yang memberi fatwa kepada setiap orang yang bertanya kepadanya tanpa bimbang ragu. Orang-orang yang sezaman dengannya memperhatikan fenomena itu, hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengujinya dengan membuat kata baru yang tidak ada asal-usulnya, yakni “KHUNFUSYAR” lalu mereka bertanya kepada fulan ini tentang maknanya. Ternyata, ia langsung menjawabnya: (Khunfusyar) adalah tumbuhan berbau harum yang tumbuh di ujung-ujung kota Yaman, bila unta memakannya niscaya air susunya menjadi lebih kental. Seorang pujangga dari Yaman berkata:

Sungguh, kecintaan mereka telah mengikat hatiku

sebagaimana khunfusyar mengentalkan air susu

Dawud al-Anthoki berkata di dalam kitab at-Tadzkiroh-nya demikian dan demikian, fulan ini dan fulan itu berkata demikian, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda ….  .

Sampai di sini (sebelum membuat hadis Nabi) orang-orang yang bertanya itu menyuruh Mufti Khunfusyar ini berhenti. Mereka berkata: “Engkau telah berdusta atas nama fulan ini dan itu! Jangan sampai engkau berdusta atas nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

 

Waduh, inilah kecerdasan yang keblinger. Fatwa keluar mengalir begitu saja, dengan mudah membawakan sebuah bait syair dan ucapan ulama, bahkan hampir saja berdusta atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dari kecerdasan yang keblinger ini.

 

Kisah kedua: Salat Magrib bisa Diqoshor?

Adalah Syams bin ‘Atho’ ar-Razi, salah seorang yang dekat dengan Timur Lang, mengaku banyak memiliki hafalan, sehingga orang-orang merasa takjub dengannya. Singkat cerita disepakatilah sebuah majelis untuk mengujinya. Di antara pertanyaan yang disampaikan ialah, “Apakah ada nash (dalil) yang menunjukkan bahwa salat magrib bisa diqoshor? Ternyata ia menjawab: “Iya, ada keterangan tentang itu pada hadis Jabir di kitab al-Firdaus karya Abu al-Laits as-Samarqandi.”

Orang-orang pun merujuk ke kitab tersebut namun tidak ditemukan keterangan tentang itu, lalu disampaikan hasil pemeriksaan itu kepadanya. Ternyata ia mengatakan: “Kitab karya as-Samarqandi tersebut terdiri dari tiga naskah: Kubro (Besar), Wusto (Sedang), dan Sughro (Kecil), sementara hadis tersebut ada di naskah Kubro, dan yang itu belum ada di negeri kita ini….”

Sejak mendengar jawabannya yang aneh itu, orang-orang tahu dan merasa bahwa ia telah berdusta dengan jawabannya.

 

Ada-ada saja, salat magrib bisa diqoshor, berarti menjadi satu setengah rakaat, bagaimana prakteknya ya?!

 

Kisah Ketiga: Apakah Ada Keraguan terhadap Keberadaan Allah?

Dahulu ada seorang pemuda penuntut ilmu bermazhab Syafi’i yang belum matang keilmuannya, sementara penduduk negerinya membutuhkan seorang Mufti, mereka tidak mendapatkan seorang pun yang layak kecuali dirinya. Karena ragu menerima pemintaan mereka, ia menemui dan berkonsultasi dengan  Syaikh-nya. Sang guru memberi solusi untuk menjawab setiap pertanyaan dengan menyebutkan “di mazhab Syafi’i dalam masalah ini ada dua pendapat,” untuk selanjutnya ia dapat memeriksanya di kitab-kitab ulama. Dan …. ternyata dia benar-benar melakukannya.

Lama-kelamaan penduduk negeri mengamatinya banyak menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga akhirnya ada seorang dari mereka yang bertanya: “Apakah ada keraguan terhadap keberadaan Allah?” Mufti muda itu istiqomah, ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Dalam hal ini ada dua pendapat !!!” Sejak saat itu terkuaklah kedok mufti muda tersebut.

 

Waduh, bahaya bila ada seorang muslim yang meragukan keberadaan Allah, tidak beriman kepada wujud Allah. Hanya kepada Allah kita berlindung dari keyakinan nyeleneh seperti ini.

Namun, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah memiliki komentar tersendiri tentang kisah di atas, beliau mengatakan: “Kisah ini tidak ditemukan di sumber yang dapat dipercaya. Yang tampak bagiku, wallahu a’lam, kisah ini termasuk rencana orang-orang yang bermazhab Hanafi untuk menghancurkan mazhab Syafi’i, sebab di antara mereka terjadi permusuhan mazhab yang sangat jelas.”

Mau lihat fenomena fanatisme yang lain terhadap mazhabnya? Berikut contohnya:

Makmun bin Ahmad al-Harowi salah satu perawi hadis yang banyak membuat-buat hadis palsu lengkap dengan sanad palsunya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara hadis yang ia buat berbunyi (dan dia menyandarkannya kepada Nabi):

يَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّّدُ بْنُ إِدْرِيْسَ أَضَرُّ عَلَى أَمَّتِيْ مِنْ إِبْلِيْسَ، وَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِيْ

“Akan ada di umatku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris, ia lebih berbahaya dari pada Iblis. Dan akan muncul di tengah umatku seseorang yang dikenal dengan Abu Hanifah, dia adalah lentera bagi umatku.”

[Silakan baca keterangan Syaikh al-Albani seputar al-Harowi dan hadis palsunya tersebut di kitab Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wa al-Maudhuu’an, nomor hadis 570.]

Tahukah anda siapa Muhammad bin Idris? Beliau adalah Imam Syafi’i rahimahullah. Ini adalah permusuhan nyata segelintir orang yang bermazhab Hanafi kepada mazhab Syafi’i. Jangan dikira ini kebaikan, sebaliknya ini adalah sejarah buruk lagi kelam yang telah dilalui oleh umat Islam.

 

Kisah Keempat: Di Manakah Ususnya Semut?

Adalah Muqatil bin Sulaiman salah seorang perawi hadis. Meskipun berilmu, namun ia mendapat ujian dengan sikap “sok tahu.” Di antara riwayat yang ada, dia pernah berkata: “Silakan bertanya kepadaku segala sesuatu yang ada di bawah ‘Asry Allah?”

Mendengar itu orang-orang bertanya: “    Dimanakah letaknya usus semut?” ternyata ia diam. Mereka juga bertanya kepadanya: “Ketika Nabi Adam pergi haji, siapakah yang mencukur rambutnya?” Ia menjawab: “Saya tidak tahu.”

Oleh karena itu Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkomentar tentangnya: “Ulama bersepakat untuk meninggalkannya (tidak mengambil riwayat darinya).”

“Silakan bertanya kepadaku segala sesuatu yang ada di bawah ‘Asry?” Kalimat ini juga menunjukkan kesombongan. Seharusnya semakin orang itu berilmu, semakin tawaduk-lah ia. Semoga Allah membimbing kita kepada sikap rendah hati.

 

 

Catatan:

Beberapa perkataan dan kisah nyata di atas diambil dari dua kitab al-Ta’aalum wa Atsaruhu ‘alaa al-Fikri wa al-Kitab dan Hilyah Thaalib al-‘Ilmi, keduanya karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zayd rahimahullah. Kedua kitab tersebut dapat ditemukan dalam sebuah kitab tebal yang berjudul al-Majmuu’ah al-‘Ilmiyyah cetakan Dar al-‘Ashimah, yang berisi lima risalah karya Syaikh Bakr, di mana pada urutan pertama dan kedua adalah dua kitab di atas.

 

 

 

Kalisari, 12 al-Muharram 1435 H/16 November 2013

M. Sulhan Jauhari

Abu Musa al-Atsari

 

Baca Selanjutnya

Di Balik Kelembutan Seorang Ibu

Ditulis oleh pada 15 Nov 2013 di Kisah Teladan | 0 komentar

Di Balik Kelembutan Seorang Ibu

Sungguh istimewa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita, kaum Adam untuk memilih pasangan hidup yang memiliki sifat penyayang. Seorang ibu yang memiliki sifat penyayang akan mewariskan sifat terpuji tersebut kepada putra-putrinya, dan mereka pun akan mewariskan sifat baik tersebut kepada keturunannya, dst. “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur… “ kata beliau. (HR. Abu Dawud, dll. Hadis sahih)

Untuk meretas generasi saleh yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, sifat penyayang saja tidaklah cukup, masih diperlukan poin penting lainnya, dan itu pun telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, di mana dalam membangun sebuah rumah tangga yang mulia, beliau memerintahkan agar kita memilih wanita salehah yang memiliki bekal agama, yang dengannya ia dapat mendidik buah hatinya menjadi insan yang bertakwa. “…Raihlah wanita yang baik agamanya. Bila tidak, engkau akan merugi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seorang penyair bersenandung:

اْلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَـهَا          أَعْدَدْتَ شَعْباً طَيِّبَ اْلأَعْـرَاق

اْلأُمُّ رَوْضٌ إِنْ تَعْهَدْهُ الْحَيَا           بِالـرَّيِّ أَوْرَقَ أَيُّمَا إِيْـرَاق

اْلأُمُّ أُسْتَاذُ اْلأُسْتَاذَةِ الأُلَـى         شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ مَدَى اْلآفَـاق

Ibu ibarat sekolah, bila dipersiapkan dengan sebaik-baiknya

Sama halnya mempersiapkan bangsa yang mulia nasabnya

Ibu laksana taman, bila engkau senantiasa memeliharanya

Niscaya akan tumbuh dedaunan yang rindang di dalamnya

Ibu itu adalah gurunya para segenap guru seluruhnya

Kebaikan mereka berpengaruh di seluruh penjuru dunia

Yang akan diketengahkan pada tulisan kali ini bukanlah penjelasan teori seputar kehidupan rumah tangga atau persiapan-persiapan sebelum mengarunginya. Akan tetapi, yang akan disuguhkan adalah tiga kisah ringkas tentang ulama besar, yang telah dididik oleh tangan-tangan lembut ibunda yang berisi keimanan dan ketakwaan. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi dalam mencari calon istri yang benar-benar baik dan bertakwa, karena di balik itu ada hikmah yang luar biasa, dan itu dapat dirasakan oleh para kaum Adam yang telah beruntung mendapatkannya. Berikut tiga kisah ringkas menarik tersebut. Semoga bermanfaat.

 

Kisah Pertama: Ibunda Sufyan ats-Tsauri

Siapa dari kita yang tidak pernah mendengar nama Sufyan ats-Tsauri? Beliau adalah pakar fikih dan hadis di jazirah Arab, salah satu pemilik mazhab fikih yang masyhur pada masanya, beliau adalah “amirul-mukminin fil-hadits”.

Za’idah rahimahullah berkata: “Sufyan adalah pemimpin kaum muslimin.”

Al-Auza’i rahimahullah menuturkan: “Tidak tersisa seorang alim yang disepakati dengan keridaan bersama oleh umat selain Sufyan.”

Imam mulia dan tokoh agama yang satu ini tak lain merupakan buah dan hasil dari didikan ibunya. Sejarah mencatat pengaruh besar bundanya, keutamaan dan kedudukannya, meski dunia begitu kikir tidak menyebutkan siapa namanya.

Abu Abdillah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Waki’ rahimahullah, ia berbagi cerita: “Ummu Sufyan bertutur kepada Sufyan, ‘Ananda, teruslah engkau menuntut ilmu, aku akan cukupi keperluanmu dengan modal mesin pemintalku ini.

Bundanya dahulu –semoga Allah merahmatinya- bekerja dan memberikan hasil jerih payahnya untuk Sufyan, agar ia dapat meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu. Sang bunda pun sering mencari-cari waktu yang tepat untuk memberikan wejangan dan nasihat kepada Sufyan.

Suatu ketika ia pernah berkata kepada Sufyan rahimahullah sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: “Ananda, sekiranya engkau menulis sepuluh huruf, maka perhatikanlah apakah engkau melihat pada dirimu ada peningkatan rasa takut (kepada Allah), ketenangan dan kewibawaan? bila engkau tidak melihatnya maka ketahuilah, sesungguhnya hal itu akan menimbulkan mudarat dan tidak memberikan manfaat.”

Dari fenomena ini, maka tak heran bila kita melihat Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menduduki jabatan mulia sebagai seorang imam pada masanya. Bagaimana tidak, sebab ia tumbuh dewasa dalam kasih sayang seorang bunda penyayang, ia meneguk air susu seorang ibu yang rajin menyampaikan nasihat kepadanya dan ia pun bertakwa kepada Allah azza wa jalla.

 

Kisah Kedua: Ibunda Imam al-Auza’i

Abu ‘Amr al-Auza’i rahimahullah adalah pakar fikih dan seorang Imam dari negeri Syam. Beliau imam yang dipercaya dan kokoh dalam keilmuannya.

Abu Ishaq al-Ghazzari rahimahullah menuturkan: “Aku tidak pernah melihat seorang seperti dua orang ini: al-Auza’i dan at-Tsauri.”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata tentangnya: “Ulama telah bersepakat akan keimaman, kemuliaan, tingginya kedudukan dan sempurnanya keutamaan al-Auza’i.”

Beliau pun menuturkan perkataan generasi salaf yang ditujukan kepada al-Auza’i terkait sifat-sifat mulia yang ada padanya, seperti zuhud, sangat berhati-hati, berani menyampaikan yang hak, teguh di atas sunnah, fasih dan sifat mulia lainnya.

Lautan ilmu yang satu ini pun tak luput dari hasil didikan seorang ibu yang agung.  adz-Dzahabi rahimahullah bercerita: “al-Auza’i lahir di Ba’labakka, ia tumbuh dalam keadaan yatim dan fakir pada didikan ibunya. Para raja tak kuasa mendidik anak-anaknya sebagaimana didikan yang dirasakan oleh al-Auza’i tentang kepribadiannya. Tidak pernah terdengar dari lisannya satupun ucapan buruk melainkan orang yang mendengarnya perlu untuk tabayyun langsung kepadanya. Tidak pernah juga aku melihatnya tertawa terbahak-bahak. Bila mulai membahas seputar hari kiamat maka aku berkata, ‘Gerangan, adakah di majelis ini hati yang tidak menangis?!”

 

Kisah ketiga: Ibunda Robi’ah ar-Ra’y

Lain cerita dengan ibunya Robi’ah, guru Imam Malik bin Anas. Ia menghabiskan uang sebesar 30.000 dinar yang ditinggalkan suaminya untuk mendidik putranya, Robi’ah. Sang ayah, Farukh pergi ke medan perang, tidaklah ia kembali ke rumah kecuali setelah putranya menjadi dewasa dan menyandang predikat Syaikh. Sebuah predikat yang dibeli oleh ibunya dengan harta suaminya yang tidak sedikit tersebut. Sang suami pun memuji perbuatan baik istrinya.

Mari kita menyimak kisah tentang Robi’ah dari Ibnu Khallikan berikut: “Dahulu Farukh, ayahanda Robi’ah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah pergi bersama utusan menuju Khurasan, sementara Robi’ah pada waktu itu masih berupa janin di perut ibunya. Sang ayah meninggalkan 30.000 dinar untuk bekal hidup istrinya.

Setelah dua puluh tujuh tahun berlalu Sang ayah kembali ke kota Madinah dengan menunggangi seekor kuda dengan membawa sebuah tombak. Ia turun dari kuda dan mengetuk pintu rumahnya dengan tombak. Lalu Robi’ah keluar dari rumahnya, (melihat pemandangan seperti itu) ia berkata: ‘Hai musuh Allah, engkau hendak menyerang rumahku?!’ Farukh pun menimpali, ‘Hei musuh Allah, justru engkau yang masuk mendatangi istriku.”

Keduanya pun melompat bersiap-siap untuk bertarung, hingga tetangga kanan kiri berdatangan. Akhirnya cerita itu sampai ke telinga Imam Malik bin Anas (murid Robi’ah), mereka semua datang untuk menolong Robi’ah, sehingga kegaduhan semakin menjadi. Satu sama lain saling mengatakan, ‘Aku tidak akan melepaskanmu.’

Ketika melihat Imam Malik datang maka semuanya terdiam. Imam Malik berkata,’Wahai kakek, engkau boleh masuk selain rumah ini.’

Farukh  berkata, ‘Ini rumahku, saya adalah Farukh.’

Dari dalam rumah sang istri mendengar suara suaminya, ia keluar dan berkata, ‘dia adalah suamiku, dan ini (seraya menunjuk Robi’ah) adalah anakku yang ia tinggalkan dalam keadaan masih janin di dalam perutku.’

Akhirnya mereka berdua saling berpelukan dan menangis sedih. Farukh masuk ke dalam rumahnya seraya bertanya untuk memastikan, ‘Ini benar anakku”?

Sang istri menjawab, ‘Iya, benar.’

Lalu Farukh berkata, ‘Tolong keluarkan harta yang dulu aku tinggalkan padamu.’

Sang istri menjawab seraya berpaling, ‘Aku telah menyimpannya dan akan aku mengeluarkannya untukmu.’

Di kala itu, Robi’ah keluar menuju masjid dan duduk di majelis untuk menyampaikan ilmu yang dihadiri oleh Imam Malik, al-Hasan al-Bashri dan petinggi-petinggi kota Madinah lainnya. Orang-orang pun ramai berkumpul di sekelilingnya.

Kemudian Sang istri berkata kepada suaminya, ‘Silakan kamu keluar dulu dan kerjakanlah salat di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Lalu Farukh keluar menuju masjid. Sesampainya di sana, ia melihat majelis ilmu yang begitu ramai. Ia pun mendekat dan diam sambil mengamatinya. Melihat ayahnya datang, Robi’ah menolehkan kepalanya agar sang ayah tidak melihatnya, dan waktu itu ia mengenakan penutup kepala yang panjang. Sang ayah ragu-ragu, lalu ia bertanya kepada orang-orang, ‘Siapakah nama ulama ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Dia adalah Robi’ah bin Abu Abdurrahman.’ Mendengar nama itu ia bergumam, ‘Sungguh Allah telah mengangkat derajat putraku.’

Ia pun bersegera pulang menuju rumahnya dan berkata kepada Sang istri, ‘Sungguh, aku melihat putramu dalam keadaan yang tidak pernah aku melihat seorang ulama dan pakar fikih pun sepertinya.’

Mendengar perkataan suaminya itu Sang Istri langsung mengatakan, ‘Lantas, mana yang lebih engkau cintai, 30.000 dinar atau keadaan putramu sekarang ini?

Ia menjawab, ‘Demi Allah, tentu saja dia yang lebih aku pilih.’

Sang istri lalu mengatakan, ‘Aku telah menggunakan seluruh hartamu itu untuk mendidiknya hingga seperti sekarang ini.’

Farukh menutup pembicaraan seraya mengatakan, ‘Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakan harta tersebut.’

 

Ikhtitam

Tiga cerita tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan kisah lainnya. Kisah tentang bagaimana pengaruh besar Sang bunda dalam mendidik buah hatinya. Maka itu, penting bagi anda untuk mencari dan terus berusaha untuk mendapatkan istri yang salehah, yang dari rahimnya dapat melahirkan pemuda-pemuda besar, yang dapat membawa Islam menuju kejayaannya. Namun, mencari wanita seperti itu tidaklah mudah. Perbaikilah diri anda, semoga dimudahkan untuk mendapatkannya.

 

Catatan:

Tiga kisah ringkas di atas di ambil dari kitab ath-Thariiq ilaa al-Walad ash-Shaalih (Upaya Mendapatkan Anak Salih) karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali, Penerbit Dar adh-Dhiya’, tahun 1410 H, hal. 14-22.

 

 

 

Kalisari, 11 al-Muharram 1435 H/15 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya

Belajar dari Pengalaman

Ditulis oleh pada 14 Nov 2013 di Renungan | 0 komentar

Belajar dari Pengalaman

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan kepada kita dalam banyak ayat al-Qur`an bagaimana kesudahan suatu kaum yang menyelisihi perintah rasul-Nya, bermaksiat kepadanya dan menentang ajaran dan aturan yang ia bawa.

Kaum Nabi Nuh a’aihissalam Allah binasakan dengan banjir yang tiada duanya. Raja Firaun lantaran kalimat kufur yang keluar dari mulutnya dan enggan taat kepada Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam, Allah binasakan ia dan kaumnya dengan gulungan air laut. Tsamud kaum Nabi Saleh ‘alaihissalam, ‘Aad kaum Nabi Hud ‘alaihissalam dan kaum-kaum nabi-nabi yang lain yang bermaksiat kepada nabi utusan, semuanya Allah binasakan dengan azab yang begitu mengerikan.

Kisah nyata tersebut tidaklah Allah sebutkan di al-Qur`an begitu saja tanpa faedah atau tujuan. Justru faedahnya begitu melimpah, di antaranya adalah agar kita mengambil pelajaran bahwa siapa saja yang meragukan, durhaka, melecehkan, membenci, mencela, mengingkari, menentang dan memusuhi setiap rasul yang Allah utus pasti ada akibatnya cepat atau lambat.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Yusuf: 111)

“Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakan dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 134)

 

BALASAN DI DUNIA

Allah telah memperingatkan umat ini agar tidak menyelisihi perintah rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasulullah) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. an-Nur: 63)

Siapa saja yang mencela atau melecehkan salah satu ajaran atau sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sadar atau tidak dia telah membenci agama Islam. Dan konsekuensinya adalah Allah akan menimpakan azab kepadanya, mungkin di dunia, mungkin di akhirat, atau mungkin juga di dunia dan di akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui segala gerak-gerik setiap hamba-Nya.

Di bawah ini, kami akan suguhkan beberapa kisah aneh yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita lantaran keraguan mereka terhadap ajaran Islam atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyelisihi, melecehkan, mengolok-olok atau bahkan mengingkarinya. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

(1). Rupa Berubah Keledai

Ibnu Hajar rahimahullah pernah menyampaikan cerita tentang sebagian penuntut ilmu, bahwasanya ada di antara mereka yang melakukan perjalanan ke Damaskus untuk menimba hadis dari seorang Syaikh tersohor yang ada di sana. Lalu ia pun belajar dan membacakan beberapa hadis di hadapan Syaikh tersebut. Akan tetapi Syaikh itu selalu membatasi antara diri dengan murid-muridnya dengan sebuah tabir, sehingga mereka tidak dapat melihat wajahnya secara langsung.

Ketika seorang murid tersebut telah lama mengambil ilmu darinya, dan ia mengetahui betapa antusias murid yang satu ini, akhirnya ia membuka tabir agar muridnya itu dapat melihat wajahnya. (Setelah dibuka) ternyata rupa Syaikhnya berwujud keledai.

Kemudian Syaikh tersebut berkata seraya menasihati: “Berhati-hatilah wahai muridku dari mendahului imam (dalam salat), karena sesungguhnya aku pernah membaca sebuah hadis dan aku menganggap hal itu tidak mungkin terjadi. Lalu aku pun mendahului imam dan ternyata wajahku berubah seperti yang engkau lihat sekarang ini. [al-Qaul al-Mubin fi Akhta` al-Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, hlm. 252, cetakan Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibn Hazm]

Hadis yang dimaksud berbunyi:

أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ.

“Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?! (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah merahmati Syaikh dan mengampuni dosanya. Meskipun ia pernah meragukan sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun alhamdulillah ia bertaubat kepada Allah dan menasehati murid-muridnya agar tidak meragukan, melecehkan atau menentang sunnah yang datang dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

(2). Kaki Lumpuh Seketika

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Ahmad bin Marwan al-Maliki bercerita dalam kitabnya al-Mujalasah: Zakaria bin Abdurrahman al-Bashri pernah bercerita kepadaku: Aku pernah mendengar Ahmad bin Syu’aib bertutur: Kami pernah menghadiri majlis ilmu ulama hadits. Kemudian ia bercerita kepada kami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

“…Dan sesungguhnya malaikat-malaikat meletakkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu.” (Hadits shahih. Lihat: Shahih Abi Dawud, no. 3641, Shahih Ibn Majah, no. 223, Shahih at-Tirmidzi, no. 2682, dll.)

Tatkala itu ada seorang mu’tazilah ikut hadir bersama kami. Ia melecehkan hadis tersebut seraya berkata: “Demi Allah, besok akan aku penuhi alas kakiku dengan paku untuk menginjak sayap malaikat.”

Ternyata ia benar-benar melakukannya. Dan tatkala ia berjalan dengan alas kakinya itu, tiba-tiba kedua kakinya langsung lumpuh dan seketika itu pula keduanya dipenuhi dengan ulat (belatung).

Ath-Thabrani juga bercerita: Aku pernah mendengar Abu Yahya Zakaria bertutur: Dahulu kami pernah berjalan di lorong kota Bashrah menuju majelis ulama hadis. Kami berjalan dengan tergesa-gesa. Dan pada waktu itu ada seorang yang fasik berjalan bersama kami. Lalu ia berkata seraya mengejek: Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap malaikat! Awas, jangan sampai merobeknya!

Dan anehnya, tiba-tiba kedua kaki orang itu langsung lumpuh dan ia jatuh tersungkur di tempatnya itu. [Miftah Dar as-Sa’adah, karya Ibnul Qayyim, jilid 1, hlm. 256-257, cetakan Dar Ibn Affan]

 

(3). Akibat Menyindir Rasulullah  

Kisah yang lain lagi diceritakan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir rahimahullah dalam kitabnya Kalimat al-Haq, hlm. 149-153. Ia berkata: “Bahwasanya raja Fuad (Mesir) akan melaksanakan salat di masjid Abidin. Lalu diundanglah Syaikh Muhammad al-Mahdi, karena dia adalah seorang khatib yang pandai berbicara, dan raja Fuad senang salat di belakangnya. Mentri Waqaf pun telah menunjuknya sebagai khatib di masjid itu. Peristiwa itu bertepatan dengan datangnya Toha Husain yang baru saja merampungkan pendidikan S3 jurusan Sastra di Prancis. Raja Fuad adalah orang yang memberikan bea siswa kepadanya dan mengirimnya untuk belajar di Prancis.

Kemudian Muhammad al-Mahdi ingin menyanjung raja Fuad yang telah memuliakan seorang yang buta, yakni Toha Husain. Ia berkata:

مَا عَبَسَ وَ لاَ تَوَلَّى لَمَّا جَاءَهُ الأَعْمَى

Dia (raja Fuad) tidak bermuka masam dan tidak berpaling tatkala seorang buta datang kepadanya.

Dia berucap demikian dengan maksud untuk menyindir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Allah ‘azza wa jalla berfirman:

عَبَسَ وَ تَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الأَعْمَى

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1 – 2)

Jika demikian, maka sikap raja Fuad lebih utama dari pada sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mata khatib yang telah menjual agamanya dengan harga murah dan segelintir logam dirham ini.

Pada waktu itu Syaikh Muhammad Syakir rahimahullah, ayah Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah ada di sana, yang mana ia bekerja sebagai wakil di masjid al-Azhar. Ia bangkit dan berkata: “Wahai sekalian manusia, salat kalian batal dan khatib kafir, maka itu ulangilah salat kalian.”

Hal itu mengakibatkan sedikit kegaduhan dan keributan. Namun raja Fuad hanya diam saja. Setelah itu Syaikh Muhammad pergi ke istana Abidin dengan membawa fatwa untuk raja dan memerintahkannya untuk mengulangi salat zuhur.

Namun Muhammad al-Mahdi adalah orang yang memiliki banyak pembela dan penasihat. Mereka menyuruhnya untuk melayangkan surat gugatan kepada hakim atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Syakir.

Sedangkan Syaikh Muhammad Syakir mengirim surat kepada para orientalis asing yang memiliki ilmu dan pengalaman atas kandungan makna ungkapan-ungkapan Arab. Di dalam surat itu ia bertanya, apakah ucapan khatib –Muhammad al-Mahdi- ini mengandung sindiran terhadap Nabi mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Sengaja beliau tidak pergi datang kepada ulama al-Azhar agar tidak dikatakan beliau mencari dukungan dari mereka (sebab beliau merupakan ulama al-Azhar). Tatkala diketahui bahwa kasus ini akan berbuntut fitnah dan khatib itu pasti kalah di pengadilan, maka para penasihatnya melarang Muhammad al-Mahdi untuk melanjutkan kasus itu ke pengadilan.

(Ketika bercerita kisah ini) Syaikh Muhammad Syakir bersumpah dengan nama Allah dan berkata: “Sungguh, aku melihat kejadian ini dengan kedua mataku, dan waktu telah lama berlalu dari orang ini (Muhammad al-Mahdi), yang mana dahulu ia termasuk khatib besar kota Mesir yang begitu masyhur, sampai-sampai raja Fuad semangat untuk salat di belakangnya, sungguh aku telah melihatnya begitu hina-dina, ia menjadi tukang bersih-bersih dan penitipan alas kaki di salah satu masjid. Aku sengaja bersembunyi darinya -karena dia mengenalku dan aku pun mengenalnya- agar dia tidak melihatku. Aku tidak merasa iba dengannya, sebab dia tidak layak mendapatkan rasa iba dari-ku.”

Sungguh Allah telah menyegerakan baginya balasan buruk di dunia sebelum di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari dicampakkan oleh-Nya. [Kalimah al-Haq, karya Syaikh Ahmad Syakir, hlm. 149-153]

 

BELAJAR DARI PENGALAMAN

Inilah tiga kisah dari orang-orang sebelum kita –dan kisah seperti ini yang lainnya masih banyak lagi-, bagaimana mereka meragukan, melecehkan atau menentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berakibat kepada turunnya azab dari Allah.

Maka itu, hendaklah orang-orang yang masih meragukan, melecehkan, mengolok-olok, merendahkan, menghinakan, menentang atau mengingkari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera bertaubat dan kembali kepada Allah ta’ala dengan segala penyesalan. Hendaklah mereka jera dari menyalahi atau menyelisihi ajaran Islam. Hendaklah mereka belajar dari pengalaman, bahwa kesudahan buruk akan menimpa siapa saja yang melecehkan sunnah Nabi-Nya, cepat atau lambat. Dan hendaklah mereka juga mengubah gaya hidup yang buruk menjadi pola hidup yang sesuai dengan syariat Islam, yang dapat menghantarkan setiap orang kepada kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Hanya kepada Allah-lah kita bertaubat dan memohon ampunan. Karena hanya Dia-lah Rabb Pemberi taufik para hamba-Nya lagi Maha mengampuni segala dosa dan kesalahan. Tiada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Rabbul ‘Alamin. Wallahu ta’ala a’lam.

 

 

Kalisari, 10 al-Muharram 1435 H/14 November 2013

Abu Musa al-Atsari

Baca Selanjutnya