TIGA SUMBER KEBAHAGIAAN

Ditulis oleh pada 29 Apr 2013 di Mimbar Umum | 0 komentar

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 pemilih, rata-rata: 3,50 dari 5)
Loading...
TIGA SUMBER KEBAHAGIAAN

Berikut ini khotbah Jumat Syaikh Abdurrozzaq bin Abdulmuhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahumallah di masjid Nasional al-Akbar Surabaya, tanggal 15 Jumadil Akhirah 1434 H yang bertepatan dengan tanggal 26 April 2013 M. Beliau mengusung tema Tiga Sumber Kebahagiaan: Syukur, Sabar dan Istighfar. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiiin.

(KHUTBAH PERTAMA)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuhu

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْراً إِلاَّ دَلَّ اْلأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلاَ شَراًّ إِلاَّ حَذَّرَهَا مِنْهُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،

Wahai kaum mukminin para hamba Allah

Bertakwalah kalian kepada Allah ta’ala, sebab siapa yang bertakwa kepada-Nya niscaya Allah akan menjaga dan membimbingnya kepada urusan agama dan dunianya yang paling baik. Bertakwa kepada Allah jalla wa ‘ala berarti melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya Allah seraya mengharap pahala dari Allah, meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya Allah karena takut akan azab Allah.

Wahai kaum mukminin para hamba Allah

Sesungguhnya kebahagiaan itu, yakni kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat berporos pada perwujudan tiga perkara yang harus dikerjakan. Barang siapa yang diberi taufik untuk mewujudkannya dan dimudahkan untuk mengamalkannya, niscaya ia termasuk orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kebahagiaan tersebut ialah, –wahai kaum mukminin- bersyukur kepada Allah jalla wa ‘ala atas segala kenikmatan-Nya, bersabar atas keputusan dan takdir-Nya, dan beristighfar serta bertaubat kepada-Nya jalla fi ‘ulaah.

Yang demikian -wahai kaum mukminin-, sebab seorang hamba di dalam kehidupan ini selalu di hadapkan dengan tiga perkara:

(1). Nikmat yang terus ada dan karunia yang tidak pernah terputus, yang senantiasa Allah limpahkan kepadanya, dan kenikmatan tersebut mewajibkan adanya syukur kepada Dzat Maha Pemberi nikmat subhanahu.

(2). Atau berbagai musibah dan beberapa hal yang Allah tabaroka wa ta’ala takdirkan dan putuskan terjadi pada hamba-Nya. Maka yang menjadi kewajiban bagi seorang hamba ialah menerima berbagai macam musibah dan ujian dengan bersabar atas takdir dan keputusan Allah seraya mengharap keutamaan dan pemberian dari-Nya.

(3). Sedangkan perkara yang ketiga –wahai hamba Allah-, yakni dosa-dosa yang ia perbuat dan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, serta berbagai kekurangan dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah yang ia terjerumus ke dalamnya. Maka itu semua menuntut taubat dan istighfar. Oleh karena itu beruntunglah –wahai kaum mukminin-, bagi orang yang bila diberi ia bersyukur, bila berbuat dosa ia beristighfar, dan bila diuji ia bersabar.

Wahai kaum mukminin para hamba Allah

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah ‘azza wa jalla  atas segala karunia dan pemberian-Nya, baik bersifat urusan agama maupun dunia. Dan Allah mengabarkan akan memberi tambahan kenikmatan lagi, sebagaimana firman Allah tabaroka wa ta’ala:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan ingatlah tatkala Tuhan-mu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Allah subhanahu wa ta’ala ridha terhadap hamba-Nya, bila menyantap sesuap makanan ia memuji Allah atasnya, dan bila menikmati seteguk minuman ia memuji-Nya atas itu.

Sehingga seorang mukmin dituntut untuk mengakui berbagai macam kenikmatan Allah baginya, karunia dan keutamaan –Nya. Ia pun dituntut untuk menggerakkan lisannya sebagai rasa syukur kepada Allah, pujian dan sanjungan atas-Nya. sebagaimana ia dituntut mempekerjakan anggota badannya untuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

اِعْمَلُوْا آلَ دَاوُوْدَ شُكْرًا

Bekerjalah, hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). (QS. Saba’: 13)

Wahai kaum mukminin

Bersabar terhadap ujian merupakan kedudukan agung dari sekian kedudukan tinggi di dalam agama, di mana tidak ada seorang hamba yang diberi taufik untuk mendapatkannya kecuali orang yang Allah karuniakan hal itu kepadanya, dilapangkan dadanya, dan menerima berbagai takdir dan keputusan Allah dengan ilmu dan iman bahwa apa yang pasti menimpanya niscaya tidak akan luput darinya, dan apa yang luput darinya niscaya tidak akan menimpanya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (QS. at-Taghabun: 11)

‘Alqomah rahimahullah mengatakan (perihal tafsir ayat di atas): “Dia adalah seorang mukmin yang tertimpa musibah, ia tahu bahwa itu datangnya dari Allah, ia ridha dan berserah diri.”

Dunia ini –wahai kaum mukminin- merupakan tempat ujian dan kampung cobaan. Tidaklah sebuah rumah terisi oleh kebahagiaan, melainkan ia pasti akan terisi pula oleh air mata dan kesedihan. Maka itu, sudah sepatutnya bagi seorang muslim melatih dirinya untuk senantiasa bersabar atas keputusan Allah, sebagaimana ia melatih dirinya bersyukur atas berbagai kenikmatan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.  Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Baqarah: 155-157)

Adapun istighfar -wahai hamba Allah-, kedudukannya besar dan pahalanya di sisi Allah melimpah. Dalam sebuah hadis bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَاراً كَثِيْراً

Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalannya istighfar yang banyak.

Adapun dampak istighfar bagi para hamba dan buah darinya bagi mereka baik di dunia dan akhirat tidak dapat dihitung dan dibilang-bilang. Di antara buahnya yang bersifat duniawi, sebagaimana yang ada di dalam firman Allah jalla wa ‘ala:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

Maka Aku (Nuh) katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan-mu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10-12)

Apabila seorang hamba mengamati dirinya, ia dapati dosa-dosanya sangat banyak, kesalahan-kesalahannya pun melimpah, sementara istighfarnya hanya sedikit. Maka itu yang wajib bagi kita –wahai para hamba Allah-, adalah memperbanyak beristighfar, menghadap kepada Allah dan kembali kepada-Nya jalla fi ‘ulaah.

Dahulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin diampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang, pernah dihitung dari beliau bahwasanya dalam satu majelis beliau mengucapkan astahgfirullah wa atuubu ilahi (aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah) sebanyak lebih dari seratus kali.

Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menjadikan kita semua termasuk orang yang apabila diberi bersyukur, bila mendapat ujian ia bersabar, dan apabila berbuat dosa ia beristighfar, dan menjadikan kita termasuk golongan orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya Allah tabaroka wa ta’ala Maha mendengar doa, Dia tempat ditujukan harapan, cukuplah Allah semata Maha Penolong kita dan sebaik-baik  Pelindung.

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتضغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

(KHUTBAH KEDUA)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُهْدِ وَالاِمْتِنَانِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،

Wahai kaum mukminin

Bertakwalah kalian kepada Allah ta’ala dan senantiasalah merasa diawasi Allah dengan perasaan seorang hamba yang mengetahui bahwa Allah Maha mendengar dan melihatnya.

Ketahuilah –semoga Allah menjaga kalian-, bahwa takwa kepada Allah jalla wa ‘alaa merupakan sebaik-baik bekal yang dapat mengantarkan kepada keridhaan Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُوْنِ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ

Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (QS. al-Baqarah: 197)

Ini merupakan wasiat Allah tabaroka wa ta’ala bagi orang-orang terdahulu dan sekarang dari hamba-Nya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوْا اللَّهَ

Dan sungguh Kami telah wasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, bertakwalah kepada Allah. (QS. an-Nisa’: 131)

Dan ini merupakan wasiat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, sekaligus wasiat generasi salafush saleh kepada sesama mereka.

Wahai kaum mukminin para hamba Allah

Sungguh, ketiga perkara yang menjadi sumber kebahagiaan di atas, yakni bersyukur, bersabar dan beristighfar telah dikumpulkan dalam sebuah atsar agung yang diriwayatkan dari seorang sahabat mulia, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh al-Bayhaqi di dalam kitab Syu’abul-Iman dan Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabnya asy-Syukru dan Ibnul Mubarak di dalam kitabnya az-Zuhdu serta selain mereka, bahwasanya Abdullah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Ada empat perkara, sekiranya keempatnya ada pada diri seorang hamba niscaya Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di surga: siapa yang penjaga urusannya adalah ucapan laa ilaaha illallah, apabila berdosa ia berkata astaghfirullah, apabila Allah memberikan suatu kenikmatan kepadanya ia mengatakan Alhamdulillah, dan apabila Allah mengujinya dengan sesuatu ia berucap innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’uun.

Beliau menyebutkan tiga perkara yang menjadi sumber kebahagiaan tersebut dan menambahkan lagi dengan sebuah perkara agung, prinsip yang kokoh dan kaidah yang sangat penting, di atasnya agama ini menjadi tegak, dan padanya poros terjaganya urusan kaum muslimin, tidak ada jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengan mewujudkannya, yaitu hendaknya dasar yang menjadi penjaga urusan mereka adalah ucapan laa ilaaha illallah.

Kalimat tersebut –wahai kaum mukminin-, merupakan kalimat tauhid, yang di atasnya tegak agama Allah tabaroka wa ta’ala. Tidak akan diterima amalan apapun, tidak akan bermanfaat suatu ketaatan, kecuali harus tegak di atas tauhid kepada Allah tabaroka wa ta’ala, sebagaimana firman Allah jalla wa ‘alaa:

وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللَّهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. al-Bayyinah: 5)

Demikian pula sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوْا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut. (QS. an-Nahl: 36)

Allah jalla wa ‘alaa juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِيْ إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. al-Anbiya: 25)

Kalimat ini (laa ilaaha illallahu) –wahai kaum mukminin-, di atasnya berporos kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang-orang yang bertauhid adalah para pemilik kebahagiaan. Sedangkan orang yang melawan tauhid adalah para pemilik berbagai macam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Kalimat tauhid laa ilaaha illallahu artinya mengikhlaskan agama hanya kepada Allah dan mengesakan Allah semata dalam hal ibadah, sehingga tidak boleh berseru/berdoa kecuali hanya kepada Allah, tidak boleh menujukan istighotsah kecuali hanya kepada-Nya, dan tidaklah bertawakal kecuali hanya kepada Allah, tidak menujukan sembelihan dan nazar kecuali hanya kepada-Nya semata, dan tidaklah dipalingkan sebuah ibadah pun kecuali hanya kepada semata jalla fi ‘ulaah, sebagaimana yang difirmankan Allah tabaroka wa ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Katakanlah: “Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. al-An’am: 162-163)

Ketahuilah -semoga Allah menjaga kalian-, bahwasanya sebaik-baik ucapan adalah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru (dalam agama), setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan. Wajib atas kalian untuk senantiasa bersama jama’ah, sebab tangan Allah bersama jama’ah.

Ucapkanlah salawat dan salam –semoga Allah menjaga kalian- atas Muhammad bin Abdillah, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kalian di dalam kitab-Nya. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. al-Ahzab: 33)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya sebanyak sepuluh kali.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلأَئِمَّةِ الْمَهْدِيين أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِـإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَأَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ، يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ،  وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا  الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُ نَاصِرًا وَمُعِيْناً، وَمُحَافِظاً وَمُؤَيِّداً

اللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُعْجِزُوْنَكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضـَاكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهاَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أَجْمَعِيْنَ مُبَارَكِيْنَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أَجْمَعِيْنَ مُبَارَكِيْنَ

اِجْعَلْنَا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، اللَّهُمَّ اهْدِنَا إِلَيْكَ صِرَاطَا مُسْتَقِيْماً

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذَنْبَنَا كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَنَهُ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، اُذْكُرُوْا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *