Peristirahatan Sementara

 20121117_064851

Abu Ishaq rahimahullah berkata: “Aku pernah menyaksikan salah satu jenazah temanku lima puluh tahun silam. Ketika ia dikebumikan dan ditutup rata dengan tanah serta semua orang telah pulang, aku duduk menghadap ke beberapa makam. Aku berfikir tentang keberadaan mereka dahulu di dunia dan terputusnya kehidupan dunia ini darinya. Aku bersenandung:

سَــلاَمٌ عَلَى أَهْلِ القُبُوْرِ الدَّوَارِسِ         كَأَنَّهُمْ لَمْ يَجْلِسُوْا فِي المَـجَالِـسِ

وَ لَمْ يَشْـرَبُوْا مِنْ بَارِدِ المَـاءِ شَرْبَةً         وَ لَمْ  يَأْكُلُوْا مِنْ بَيْنِ رَطْبٍ وَ يَابِسِ

أَلاَ خَبِّرُوْنِي أَيْنَ قَبْــرَ ذَلِيْـلِكـُمْ        وَ قَبْـرَ العَزِيْزِ البَـاذِخِ المـُتَمَارِسِ

 

Salam bagi para penghuni kubur yang telah pergi

Seakan-akan mereka belum merasakan nyaman duduk di kursi

Belum juga meminum seteguk air yang begitu segarnya

Begitu pula makanan kering dan basah yang amat  nikmatnya

Kabarkan kepadaku! dimanakah kubur si hina dari kalian

Di mana pula kubur si perkasa, yang agung dan kuat badannya

Akhirnya mata airku menetes tak terbendung lagi, aku berdiri dalam keadaan begitu sedih.”

[Ahwalul Qubur, hlm: 228]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *